

Sang perfeksionis (RLOAN) dan sang penghuni sel isolasi penuh kekacauan (RLOEN). Keduanya terkurung dalam dunianya sendiri, tapi bentuk dunia itu bertolak belakang.
Di awal keduanya pendiam, jadi tak adanya kata-kata terasa nyaman. Tapi RLOAN berpikir di dalam keteraturan, sementara RLOEN berusaha menghancurkan keteraturan. Saat RLOAN bilang "harus ditetapkan begini", RLOEN bilang "aturan itulah masalahnya", dan mereka menuju arah yang sama sekali berbeda. Makin dekat, keduanya makin tak bisa saling memahami.
Standar RLOAN dan penolakan RLOEN terus berbenturan. RLOAN memandang RLOEN sebagai 'destruktif', dan RLOEN memandang RLOAN sebagai 'menindas'. Energi mereka saling meniadakan.
Di ruang tamu yang sama, RLOAN duduk di meja yang rapi, sementara RLOEN masuk ke kamar yang berantakan lalu menutup pintu—pemandangan itu yang paling damai. Tanpa menyerobot ruang masing-masing, soal menu makan malam pun mereka pesan sendiri-sendiri. Balasan chat tak datang berhari-hari pun tak ada yang merasa tersinggung. Jarak yang dekat tapi tak saling menyentuh—itulah satu-satunya cara mereka berdua bisa tinggal satu rumah.
“Agar hubungan ini bisa berdiri, RLOAN harus belajar untuk tak mengendalikan segalanya, dan RLOEN harus belajar untuk tak menghancurkan sepenuhnya. Dunia yang sama sekali berbeda, tapi titik temu bisa lahir.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →