

Keduanya adalah orang dengan emosi yang intens. RLUAI menerima luka orang lain, sementara RLUEI meledak dengan emosinya sendiri.
Keduanya sama-sama sensitif sehingga merasakan perubahan halus pada lawannya. RLUAI berusaha memahami intensitas RLUEI, dan RLUEI terbawa oleh ketulusan RLUAI. Saat bersama, keduanya sama-sama merasa "Emosiku ternyata normal." Saat mendengarkan musik, menonton film, atau menatap langit malam, mereka menangis dengan kedalaman yang sama.
Saat RLUAI dan RLUEI bersama, pengurasan emosi berlipat ganda. RLUAI runtuh saat berusaha menampung ledakan RLUEI, dan RLUEI melaju makin berlebihan saat berusaha menanggapi ketulusan RLUAI. Keduanya memberi, tapi keduanya tak siap menerima. Akhirnya seseorang akan lebih dulu kering, dan sejak saat itu hubungan mulai retak.
Momen terbaik bagi mereka adalah saat menangis bersama. Kadang menangis tanpa tahu alasannya, tapi tangisan itu menghubungkan mereka secara dalam. Momen-momen saat bergandengan tangan di atap di tengah malam.
“Agar keduanya bisa bersama, dibutuhkan keberanian untuk sesekali tak memberi. Agar tak sama-sama runtuh karena berusaha menampung segala hal dari lawan, mereka perlu sesekali bisa berkata "Aku juga sedang berat." Bukan hanya memberi yang merupakan cinta, menerima pun dibutuhkan.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →