

Api SLUEN berkobar lalu padam, sedangkan RLUEI ingin apinya abadi. Keduanya intens, tapi yang satu adalah momen sesaat dan yang lain mendambakan keabadian.
Keceriaan SLUEN mengguncang RLUEI. RLUEI tertarik pada intensitas sesaat SLUEN. SLUEN pun menyukai intensitas mendalam RLUEI. Awalnya mereka kira berada pada gelombang yang sama. Tapi SLUEN cepat hendak menghilang, sedangkan RLUEI berusaha menggenggam momen itu selamanya. Perbedaan itu menjadi luka.
Sisi tersembunyi SLUEN menampakkan pelarian demi kebebasan "aku tak bisa diam di sini", sementara sisi tersembunyi RLUEI menunjukkan obsesi putus asa, "Tolong jangan pergi." Saat SLUEN hendak pergi, RLUEI berusaha menggenggamnya lebih kuat. Genggaman itu mencekik hubungan.
Saat bersama SLUEN adalah yang terbaik, tapi RLUEI selalu memendam kecemasan bahwa momen ini akan berakhir. Kecemasan itu membuat SLUEN pergi lebih cepat. Keintiman dan perpisahan terjadi bersamaan.
“Agar mereka bisa bersama, SLUEN perlu berjanji tak menganggap intensitas RLUEI sebagai pengkhianatan, dan RLUEI perlu percaya bahwa kepergian SLUEN bukanlah kematian melainkan pertemuan kembali. Tapi karena sifat SLUEN adalah kebebasan dan sifat RLUEI adalah keabadian, janji ini terus saja pecah. Hubungan ini seperti jam pasir; sekeras apa pun dibalik, pasirnya tetap jatuh.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →