

SLOAN berjuang mati-matian untuk menjadi yang terbaik, sedangkan RLUEN menganggap segalanya tak bermakna. Yang satu ingin membuktikan, yang lain menolak pembuktian itu sendiri.
SLOAN merasa tertantang oleh ketidakpedulian RLUEN. Saat RLUEN bertanya tentang kerja keras SLOAN, "Apa sih gunanya itu?", SLOAN berusaha membuktikan diri lebih keras lagi. Awalnya ini menjadi tenaga, tapi seiring waktu, sinisme RLUEN menggerus SLOAN. Ambisi SLOAN perlahan kehilangan makna di tengah keputusasaan RLUEN.
Sisi tersembunyi RLUEN menampakkan keraguan tak berbatas, "Toh semuanya percuma," sementara sisi tersembunyi SLOAN menunjukkan perjuangan putus asa, "Aku akan membuktikan diri." Saat RLUEN merendahkan SLOAN dengan "Tetap saja percuma," SLOAN justru berusaha memercayai ucapan itu sampai habis. Lingkaran setan antara keraguan dan pembuktian pun dimulai.
Saat SLOAN pulang setelah meraih sesuatu, RLUEN bertanya, "Apa itu?" Pertanyaan itu paling dalam melukai SLOAN. Sebab RLUEN tak mau mengakui pencapaian SLOAN.
“Agar mereka bisa bersama, RLUEN perlu mengakui bahwa hasrat SLOAN untuk membuktikan diri bukan kelemahan melainkan jenis intensitas yang lain, dan SLOAN perlu tidak meremehkan keputusasaan RLUEN. Tapi karena pandangan dunia keduanya bertolak belakang, hubungan ini besar kemungkinannya jatuh ke saling menghancurkan. Salah satu harus pergi lebih dulu.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →