

SLOEI membakar pesta, sedangkan RLUEN bertanya, "Kenapa?", di tengah pesta itu. Yang satu ingin menjadikan hari ini yang terbaik, yang lain menganggap segalanya tak bermakna.
Energi SLOEI untuk sementara menerangi keputusasaan RLUEN. RLUEN pun awalnya terhisap ke dalam keceriaan itu. SLOEI memandang kedalaman RLUEN dengan rasa tertarik. Tapi RLUEN merasa spontanitas SLOEI tak bermakna. Seiring waktu, RLUEN kembali ke sinisme "Apa sih gunanya itu?". Intensitas SLOEI pun memudar di tengah sinisme RLUEN.
Sisi tersembunyi RLUEN menampakkan ketidakpedulian putus asa, "Bahkan saat ini pun semua tak bermakna," sementara sisi tersembunyi SLOEI menunjukkan kegelisahan, "Momen ini adalah nyawa." Saat RLUEN merespons intensitas SLOEI dengan "Tetap saja percuma," SLOEI kehilangan nilai dirinya di tengah ketidakpedulian itu. Inilah benturan makna.
Saat intensitas SLOEI lenyap, RLUEN bergumam, "Nah, kan, beginilah dunia." SLOEI sulit menanggung ketidakpedulian itu.
“Agar mereka bisa bersama, RLUEN perlu belajar bahwa masa kini SLOEI pun bisa bermakna, dan SLOEI perlu berusaha memahami keputusasaan RLUEN. Tapi karena premis dasar keduanya terlalu berbeda, hubungan ini cepat mendingin. Tak ada jembatan antara intensitas dan keputusasaan.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →