

CEO karismatik (SCOAN) dan si pencemas di atas panggung (SLOAI) sama-sama suka panggung. Yang satu dengan memimpin, yang satu dengan hati yang berdebar.
SCOAN dengan percaya diri menganggap dirinya yang terbaik. SLOAI ingin berdiri di panggung, tapi cemas takut runtuh. Awalnya kepercayaan diri SCOAN menarik SLOAI. SLOAI mengikutinya sambil berpikir "apa aku bisa jadi seperti dia?". SCOAN pun merasa mampu menangani emosi SLOAI. Saat mereka berdiri di panggung bersama, suasananya bagus. Pemandangan SCOAN memimpin dan SLOAI mengikuti terlihat alami.
Saat SLOAI cemas berkata "kayaknya aku nggak bisa", SCOAN berkata "jangan berpikir begitu". Tapi kecemasan SLOAI tak hilang, dan kepercayaan diri SCOAN kadang terlihat tak peka. SCOAN melihat kecemasan SLOAI sebagai kelemahan, dan SLOAI merasakan kepercayaan diri SCOAN sebagai kedinginan. Kalau SLOAI terus bergantung, SCOAN mendorongnya dengan berkata "kamu bisa sendiri kok".
Saat mengerjakan proyek bersama mereka kuat, tapi begitu SLOAI sendirian dia jadi cemas. Kalau SCOAN sedang menempuh jalannya sendiri, SLOAI berpikir "apa dia meninggalkanku?".
“Agar mereka bisa bersama, SCOAN harus melihat kecemasan SLOAI bukan sebagai kelemahan, melainkan kepekaan. Ketika SLOAI juga tahu bahwa kepercayaan diri SCOAN bukan mengabaikannya melainkan memercayai dirinya sendiri, SCOAN bisa jadi tiang yang kokoh bagi SLOAI.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →