

CEO karismatik (SCOAN) dan si pengejar pencapaian yang dramatis (SLOAN) sama-sama menginginkan yang terbaik. Saat pertama bertemu, mereka jatuh hati pada ambisi satu sama lain.
SCOAN menjalankan visinya dengan penuh keyakinan. SLOAN juga berusaha jadi yang terbaik, tapi terus cemas. Awalnya keyakinan SCOAN menginspirasi SLOAN. SLOAN berpikir "aku ingin punya keyakinan sebesar itu". Keduanya menginginkan kesuksesan, dan ada sinergi saat tumbuh bersama. Tapi SCOAN terlihat seperti orang yang sudah tiba, sementara SLOAN masih dalam perjalanan.
Bahkan saat SLOAN berhasil, dia bertanya pada SCOAN "apa aku benar-benar sudah cukup baik?". SCOAN menjawab "tentu saja", tapi itu tak meredakan kecemasan SLOAN. Keyakinan SCOAN kadang terdengar bagi SLOAN sebagai "kamu belum sampai levelku". Sebaliknya, kecemasan SLOAN yang tak ada habisnya bisa melelahkan SCOAN. SCOAN terus berkata "kamu sudah cukup kok", tapi kata itu tak sampai ke SLOAN.
Saat mengejar kesuksesan bersama mereka paling dekat, tapi saat kecemasan SLOAN meledak, jarak muncul di antara mereka. SCOAN tak bisa memahami SLOAN, dan SLOAN merasa tak dipahami oleh SCOAN.
“Agar mereka bisa bersama, SCOAN harus tahu bahwa kecemasan SLOAN bukan kelemahan, melainkan ekspresi lain dari perfeksionisme. Ketika SLOAN juga memahami bahwa keyakinan SCOAN bukan mengabaikannya melainkan menilai dirinya tinggi, mereka jadi pasangan yang saling mengangkat ambisi.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →