

RLUAN bersikeras hanya dirinya yang benar, sedangkan SLOAI gelisah di atas panggung. Yang satu menolak dunia, yang lain menginginkan pengakuan dunia.
SLOAI menganggap kekeraskepalaan RLUAN itu memikat. Soalnya RLUAN tak goyah. SLOAI ingin bersandar pada kepastian itu. RLUAN pun awalnya merasa kecerahan SLOAI memecah kesendiriannya. Tapi setiap kali SLOAI mempedulikan tatapan orang lain, RLUAN menyindirnya dengan nada "Buat apa sih kamu begitu." Saat dasar emosi berbeda, yang lahir bukan pemahaman melainkan penghakiman.
Sisi tersembunyi RLUAN memunculkan kekeraskepalaan penuh putus asa "Hanya aku yang benar, dunia semuanya salah," dan sisi tersembunyi SLOAI merasa dirinya pun jadi orang yang salah di dalam penolakan itu. Saat RLUAN menyangkal usaha SLOAI, SLOAI bertanya "Memangnya apa salahku?" Lingkaran setan penolakan dan kegelisahan pun dimulai.
Tak ada momen nyaman bagi SLOAI saat bersama RLUAN. Sebagai gantinya, SLOAI berusaha membujuk RLUAN. Pertanyaan "Bukankah kamu juga bisa sedikit bergaul dengan orang?" terus berulang. Itulah yang jadi ketegangan sehari-hari.
“Agar keduanya bisa bersama, RLUAN perlu belajar bahwa kekeraskepalaannya bukan satu-satunya jawaban benar, dan SLOAI perlu menemukan dirinya di dalam kekeraskepalaan RLUAN. Tapi karena arah keduanya bertolak belakang, hubungan ini lebih dekat ke duel ketimbang harmoni. Kalau tak ada yang lebih dulu mengalah, kebersamaan sulit terwujud.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →