

RLUEN menolak segala aturan, sedangkan SLOAI berjuang menaati aturan di atas panggung. Yang satu memicu pemberontakan, yang lain cemas di tengah kekacauan itu.
SLOAI tertarik pada kebebasan RLUEN. Alih-alih menolak segalanya, RLUEN justru membuka kemungkinan. Saat SLOAI berpikir, "Mungkin aku juga bisa melakukan ini?", hubungan terasa berbunga-bunga. Tapi pemberontakan RLUEN bisa kapan saja menyeret SLOAI ke dalam pusaran, jadi kecemasan SLOAI terus membesar. Kebebasan menjadi rasa takut, bukan pesta.
Sisi tersembunyi RLUEN menampakkan pelarian putus asa, "Aturan maupun hubungan tak cocok untukku," sementara sisi tersembunyi SLOAI mengeluarkan suara cemas bagai anak kecil, "Tolong jangan buang aku." Saat RLUEN hendak pergi, SLOAI menerimanya sebagai kesalahannya sendiri. Kebebasan dan kecemasan berusaha menjadi cinta bersamaan, tapi akhirnya menjadi luka.
Saat bersama RLUEN, SLOAI selalu bersiap untuk ditinggalkan. Persiapan itu menjadi keseharian. Kadang kebebasan RLUEN memang memikat, tapi sebagian besar waktu SLOAI cemas.
“Agar mereka bisa bersama, RLUEN perlu menyadari bahwa pelariannya melukai SLOAI, dan SLOAI perlu berjanji tak akan mengendalikan kebebasan RLUEN. Tapi karena kecepatan keduanya terlalu berbeda, hubungan ini selalu tak seimbang. Tanpa salah satu pihak melepaskan terlebih dulu, mereka tak bisa bersama.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →