

SLOEI dan SLUAN tertarik satu sama lain saat pertama bertemu. Keduanya percaya pada energinya, dan keduanya berusaha membuat momen itu jadi yang terbaik. Kalian cepat akrab sambil berkata "Wah, kamu juga orang yang seperti ini!", tapi seiring waktu terbersit "Tapi aku tidak mau masuk ke ruanganmu, kok?".
Keduanya spontan dan percaya diri pada energinya, jadi saat bersama terasa seakan sesuatu bakal terjadi. SLOEI berhati "malam ini harus jadi malam terbaik dalam hidup", dan SLUAN berpikir "di medan magnetku, aturankulah yang berlaku". Di awal ini jadi pemantik satu sama lain, tapi makin dalam, makin samar siapa yang memimpin. Sebab keduanya mementingkan momennya masing-masing sehingga tak mudah berkompromi.
Saat energi SLUAN turun, SLOEI berusaha menyalakannya lagi dengan gaya "Kemarin kamu ngapain aja? Halo?". Tapi SLUAN memasang dinding sambil berkata "Aku tahu perasaanku sendiri kok". SLOEI tampak plin-plan, tapi sebenarnya ia mengekspresikan emosinya; SLUAN tampak diam, tapi itu sinyal penolakan. Kalau kalian berdua tak saling memahami, tertinggallah luka "Ternyata kamu tak peduli padaku".
Ada momen saat kalian berdua menciptakan suasana yang sama di tempat yang seru, dan ada momen saat kalian duduk diam berdampingan. Tapi masalahnya saat sinyal "Aku ingin sendiri sekarang" beredar. Saat itu SLOEI mengkerut, dan SLUAN jadi kesal.
“Kalian berdua jadi pasangan yang sangat kuat kalau bisa menghormati ruang yang dibutuhkan lawan. SLOEI cukup tak menerima diamnya SLUAN sebagai penolakan, dan SLUAN cukup tak menerima perhatian SLOEI sebagai obsesi. Tahu bahwa meski keluar dari pesta yang sama, cara keluarnya berbeda. Itulah benang yang menyambung kalian berdua.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →