

SLUAI berusaha memeluk luka semua orang, sedangkan RLUEN bersikap sinis, "Apa sih gunanya itu?" Yang satu ingin terhubung, yang lain terkurung dalam keterputusan.
SLUAI berusaha menangkap keputusasaan RLUEN. RLUEN pun awalnya melunak oleh perhatian itu. Saat SLUAI berkata, "Aku memahamimu," RLUEN sejenak menurunkan temboknya. Tapi saat RLUEN kembali ke "Toh semuanya percuma," SLUAI terkurung di dalam keputusasaan itu. Saat orang yang ingin terhubung bertemu orang yang bersikeras terputus, keduanya terluka.
Sisi tersembunyi RLUEN menampakkan kepasrahan, "Tak ada yang bisa menyelamatkanku," sementara sisi tersembunyi SLUAI memeluk beban berlebih, "Aku akan menyelamatkanmu." Saat RLUEN merespons usaha SLUAI dengan "Tetap saja percuma," SLUAI menerima ucapan itu sebagai kegagalannya sendiri. Inilah lingkaran setan antara empati dan keputusasaan.
Saat bersama SLUAI, RLUEN tak tahu cara mensyukuri perhatian itu. Sebaliknya, ia bertanya, "Kenapa kamu memikul tanggung jawab pada dirimu sendiri?" SLUAI tak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Agar mereka bisa bersama, RLUEN perlu berusaha menerima perhatian SLUAI sebagai kepedulian, bukan penolakan, dan SLUAI perlu menerima bahwa ia tak bisa menyelamatkan setiap keputusasaan. Tapi karena premis dasar keduanya bertolak belakang, hubungan ini selalu berbentuk satu pihak melukai yang lain. Sanggupkah mereka menanggung luka itu, itulah ujian hubungan ini.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →