
Bisakah Kepribadian Berubah? Membaca Ulang “Aku Memang Begini”
“Aku memang begini” hanya separuh benar. Kecepatan reaksimu mungkin tetap, tapi cara kamu mengelolanya berubah mengikuti tempat kamu berada dan seberapa sering kamu mencoba. Ini rangkuman apa yang bergerak dan apa yang tinggal.
“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →
“Aku memang begini.” Kamu pasti pernah mengatakannya pada teman setidaknya sekali. Karena terlambat, karena bicara terlalu blak-blakan, karena ingin sendirian. Di dalam satu kalimat itu ada dua perasaan sekaligus: lega karena ini aku, dan pasrah karena jadi aku tidak bisa mengubahnya. Tapi benarkah kepribadian tidak berubah? Apakah aku di usia dua puluh sama dengan aku di usia tiga puluh? Tulisan ini mengurai pelan-pelan apa yang berubah dan apa yang tinggal dalam kepribadian, dan kalau ada yang ingin kamu ubah, dari mana memulainya.
Kepribadian dan temperamen adalah lapisan yang berbeda
Kita rapikan istilahnya dulu. Kecepatan dan kekuatan reaksi yang kamu bawa sejak lahir biasanya disebut temperamen. Bayi yang terbangun oleh suara sekecil apa pun, bayi yang membeku saat melihat orang asing. Lapisan ini nyaris tidak bergerak. Sementara kepribadian adalah kumpulan kebiasaan yang dibangun pengalaman di atas temperamen itu: apa yang lebih dulu kamu rasakan dalam sebuah situasi, bagaimana kamu merespons, apa yang kamu hindari. Lapisan ini bergerak lebih banyak dari yang kamu kira.
Jadi “aku memang begini” hanya separuh benar. Kecepatan reaksimu mungkin memang bawaan. Tapi apa yang kamu lakukan dengan reaksi itu tidak pernah ditentukan dari awal.
Yang dikatakan penelitian: kepribadian berubah perlahan, ke arah tertentu
Penelitian yang mengikuti orang selama bertahun-tahun sepakat pada satu hal. Kebanyakan dari kita, saat bergerak dari usia dua puluhan ke tiga puluhan, menjadi sedikit lebih tenang, sedikit lebih bertanggung jawab, sedikit lebih lembut. Psikologi menyebutnya arah kematangan. Bukan perubahan dramatis; lebih mirip orang yang sama bergeser beberapa kursi.
Dua hal penting di sini. Pertama, perubahannya lambat. Kamu tidak menjadi orang lain dalam beberapa minggu. Kedua, perubahan punya urutan. Biasanya peran baru datang lebih dulu, perilaku berubah, dan baru setelah itu muncul kesadaran “aku agak berubah, ya”. Pekerjaan pertama, tinggal sendiri untuk pertama kali, hubungan yang bertahan lama: hal-hal yang meminta kursi baru darimu itulah yang paling menggerakkan kepribadian.
Lalu kenapa aku merasa “tidak berubah”
Ada alasan kenapa perubahan terasa tidak ada padahal sedang terjadi.
- Kamu terus tinggal di kursi yang sama. Orang yang sama, pekerjaan yang sama, rute yang sama membuat kesempatan mencoba perilaku baru pun jadi sedikit. Bukan kepribadianmu yang mengeras, tapi lingkunganmu.
- Pembandingmu adalah dirimu kemarin. Kemarin dan hari ini hampir sama. Tapi bandingkan dengan dirimu tiga tahun lalu, dan sering kali kamu sudah orang yang cukup berbeda. Perubahan terlihat dalam hitungan tahun, bukan hari.
- Kamu hanya melihat dirimu di satu kursi. Kamu di depan orang dan kamu saat sendirian adalah orang yang sama dengan tekstur yang berbeda. Kalau di kantor kamu masih hati-hati tapi di depan teman jauh lebih berani daripada dulu, itu sudah berubah. Melihat satu kursi saja, kamu mudah melewatkannya.
Yang bergerak dan yang nyaris tidak bergerak
Kalau ada yang ingin kamu ubah, ada baiknya tahu dulu apa yang mudah bergerak dan apa yang tidak.
Yang mudah bergerak
- Seberapa mudah kamu bicara duluan di tempat yang asing
- Kebiasaan membuat rencana dan menepatinya
- Berapa lama emosi turun setelah naik
- Apakah kamu menghindari konflik atau menghadapinya
Yang nyaris tidak bergerak
- Kecepatan dasar reaksimu terhadap rangsangan (suara, cahaya, seberapa peka terhadap keramaian)
- Di mana energimu terisi (di antara orang atau sendirian)
- Apakah kamu tertarik pada hal baru atau merasa tenang dengan yang akrab
Memaksa mengubah yang nyaris tidak bergerak itu melelahkan. Memilih lingkungan yang cocok dengan tekstur itu jauh lebih efisien. Orang yang terisi saat sendirian dan memaksakan diri datang ke kumpul-kumpul setiap malam akan tampak supel tapi kehabisan daya. Yang dia butuhkan bukan perombakan kepribadian, melainkan jadwal yang menyediakan waktu pemulihan.
Kalau ingin berubah, ubah adegannya, bukan kepribadiannya
“Aku ingin lebih berani” adalah tujuan yang terlalu besar untuk dipegang. Coba pecah seperti ini.
- Pilih satu adegan saja. Satu kursi yang konkret: bicara duluan di rapat, menyapa satu orang lebih dulu di kumpul-kumpul yang asing.
- Coba perilaku baru hanya di adegan itu. Di tempat lain kamu boleh tetap seperti biasa. Setelah sekitar sepuluh kali di satu adegan, perilaku itu mengeras menjadi dirimu di kursi itu.
- Hitung pengulangan, bukan hasil. Bukan apakah berjalan baik, hanya apakah kamu melakukannya. Kepribadian tidak berubah lewat penilaian; ia berubah lewat hitungan.
- Jaga kursi pemulihanmu. Perilaku baru menghabiskan banyak energi. Jangan kurangi waktu sendirian atau waktu bersama orang yang sudah akrab. Waktu itulah yang memungkinkan percobaan berikutnya.
Cara ini bagus karena kegagalan tidak pernah menjadi “aku orang yang tidak bisa”. Ia tinggal sebagai “di adegan itu, belum”. Kamu tidak mempertaruhkan seluruh kepribadian, jadi bebannya turun, dan saat beban turun, percobaan bertambah.
Hasil tes yang berubah bukan hal aneh
Banyak yang bercerita mengulang tes kepribadian setelah setahun dan hasilnya berbeda. Itu bukan karena tesnya asal-asalan. Kemungkinan besar kursinya berubah di antara waktu itu. Kamu mendapat pekerjaan, putus, mulai tinggal sendiri. Terutama sumbu yang tadinya dekat garis batas, hurufnya bisa berbalik oleh perubahan kecil. Karena itu saat membaca hasil, seberapa jauh tiap sumbu condong lebih akurat daripada hurufnya. 55 dan 95 adalah huruf yang sama tapi orang yang berbeda.
Satu lagi. Ukur dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah, dan kamu bisa melihat “apakah berubah, atau memang sejak awal punya dua wajah”. Kalau di luar kamu jadi tenang tapi saat sendirian masih bergejolak, kepribadianmu tidak berubah; keterampilanmu mengelolanya yang bertambah. Itu pun perubahan yang cukup besar.
Singkatnya
- Temperamen nyaris tidak berubah, kepribadian berubah perlahan. Arahnya umumnya lebih tenang dan lebih bertanggung jawab.
- Terasa tidak berubah biasanya karena terlalu lama tinggal di kursi yang sama.
- Kalau ingin berubah, pilih satu adegan, bukan seluruh kepribadian; hitung pengulangan; jaga waktu pemulihan.
- Kalau hasil tes berubah, kursinya yang berubah. Lihat derajat condongnya, bukan hurufnya.
Kalau ingin mengukur dirimu hari ini di dua kursi secara terpisah, mulailah dari tes kepribadian gratis. Ia menampilkan dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian, masing-masing dalam lima sumbu. Ulangi beberapa bulan kemudian, dan sumbu mana yang bergerak akan tertinggal apa adanya. Itu bisa jadi kalimat baru yang kamu pakai menggantikan “aku memang begini”.
Tulisan ini dimaksudkan untuk membantu memahami diri dan tidak menggantikan diagnosis atau perawatan psikologis. Kalau kesulitan berlangsung lama, bicaralah dengan profesional.
“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?
Cek diri publik & diri tersembunyimu gratisGratis · Mulai tanpa daftar