

Sang filsuf jam 3 pagi berpikir bagai badai di satu tempat, sementara sang pengembara berjiwa bebas selalu siap pergi ke mana saja. Yang berat dan yang ringan bertemu di sini.
RLOAI dan SCUEN sama-sama tak mau jadi milik siapa pun. Keringanan SCUEN bisa sedikit meringankan beban berat RLOAI, dan keseriusan RLOAI bisa sesekali membuat SCUEN berhenti sejenak. Keduanya sama-sama ingin bebas dengan caranya sendiri, jadi hati itu nyambung dan mereka bisa saling tak menekan. RLOAI bisa menerima keberadaan SCUEN yang bagai cahaya, dan SCUEN pun bisa menjumpai kedalaman RLOAI secara ringkas.
RLOAI bisa merasa pengembaraan SCUEN itu sebuah ketidakpedulian. Saat SCUEN hendak pergi, RLOAI ingin bertanya "selama ini kita ini apa?", sementara SCUEN bisa menjawab "bukankah cukup bahwa kita pernah membagi yang sekarang?". Keterpakuan RLOAI bisa terasa membelenggu SCUEN, dan keringanan SCUEN bisa terasa seperti pengkhianatan bagi RLOAI. Rasa waktu mereka berdua sama sekali berbeda.
Saat SCUEN muncul tak terduga, menerangi malam RLOAI, lalu pergi tanpa sepatah kata, kalau RLOAI bisa mensyukuri keberadaan di momen itu, di situlah letak kedekatan mereka. SCUEN pun sesekali ingin singgah di hadapan pikiran mendalam RLOAI.
“Kalau RLOAI menerima kepergian SCUEN bukan sebagai pengkhianatan melainkan kebebasan, dan SCUEN sesekali membuka hati pada kedalaman RLOAI, keduanya menjadi hubungan yang paling sulit ditafsirkan sekaligus paling murni.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →