

Filsuf pukul 3 dini hari (RLOAI) dan pemimpi yang tak bisa berhenti (RLOEI). Keduanya pendiam, tapi yang satu berpikir dengan dalam, yang lain berpikir dengan bebas.
Karena keduanya tahu betul soal kesepian, awalnya mereka merasa satu sama lain bagaikan sesama spesies. Pikiran berbobot RLOAI dan khayalan melayang RLOEI anehnya cocok. Waktu tanpa kata pun terasa nyaman, dan kata-kata yang tiba-tiba meledak pun terasa alami. Keduanya benci berpura-pura melakukan sesuatu, jadi yang tersisa hanyalah yang sungguhan.
Saat RLOAI bertanya "besok mau gimana?", RLOEI menjawab "nanti pas waktunya juga tahu sendiri". Seiring waktu RLOAI jadi frustrasi, dan RLOEI merasa dikontrol. Saat memulai sesuatu bersama, RLOAI berpikir 'harus diselesaikan', sedangkan RLOEI berpikir 'biarkan mengalir saja'.
Momen ternyaman bagi mereka berdua adalah saat tidak memikirkan masa depan. Saat menonton film, mendengarkan musik, atau sekadar berada saja. Saat tenggelam hanya pada momen ini, hati mereka berdua bertumpang tindih.
“Tak perlu membuang rencana ataupun aliran, salah satunya. RLOAI bisa menggambar peta, dan RLOEI bisa menemukan jalan di antaranya. Kalau saling menghormati cara masing-masing, hubungan jadi lebih kaya.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →