

Filsuf (RLOAI) dan si keras kepala (RLUAN). Keduanya punya pikiran sendiri, tapi yang satu bertanya, yang lain berteriak.
Awalnya, karena keduanya pendiam, sepertinya bakal cocok. Tapi seiring waktu, benturan membesar. RLOAI bergumul "apa ini benar ya?", sedangkan RLUAN yakin "ini benar". Pertanyaan skeptis RLOAI membuat RLUAN buntu, dan ketegasan RLUAN membuat RLOAI makin bingung.
Pertanyaan RLOAI "apa itu benar-benar benar?" terasa seolah memperlakukan RLUAN sebagai 'orang yang tak mengerti', dan kata-kata RLUAN "aku tahu ini benar" terlihat seolah 'meremehkanku' bagi RLOAI. Itu bukan percakapan, melainkan menjadi garis sejajar.
Momen ternyaman adalah saat mereka berada di dunia masing-masing. Di ruang tamu yang sama, RLOAI menulis catatan di buku, dan RLUAN menonton dokumenter kesukaannya. Selama dua jam tanpa sepatah kata pun tidak terasa canggung. Meski chat tak dibalas, mereka tidak saling kecewa, dan meski tiba-tiba mengirim "udah tidur?" dini hari lalu dibalas esok harinya pun tetap baik-baik saja. Jarak yang dekat tapi tak tersentuh, itulah cara mereka berdua bertahan.
“Saat RLUAN menerima pertanyaan RLOAI bukan sebagai 'keraguan' melainkan 'kedalaman', dan RLOAI menghormati keyakinan RLUAN bukan sebagai 'kekerasan kepala' melainkan 'kekuatan', mereka berdua bisa saling menyempurnakan.”
Ini untuk eksplorasi diri. Jangan dijadikan dasar untuk menilai fakta.
Ikuti tesnya sekarang supaya kamu juga bisa mengecek kecocokanmu.
Aku juga mau cek kecocokan →