32personas
Diri publik & pribadi

Baik banget ke orang lain, tapi capek sendirian, apa ini sindrom anak baik?

Di luar selalu jadi orang baik, tapi saat sendirian kamu capek tanpa alasan? Kalau kebaikan mengeras jadi peran, diri dalammu kehilangan jalan keluar untuk seleranya dan untuk perasaan yang tidak nyaman.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Saat menentukan menu makan siang, yang keluar duluan adalah “aku apa aja boleh”. Saat pendapatmu dibalik di rapat, kamu tersenyum dan bilang “iya, itu lebih bagus”. Saat adikmu lagi-lagi mengundur janji, kamu membalas “nggak apa-apa, lain kali aja”. Seharian kamu tidak berbenturan dengan siapa pun, tapi begitu sampai rumah dan melepas sepatu, seluruh badan terasa berat. Lalu kadang, gara-gara hal sepele seperti menjatuhkan gelas, tiba-tiba air matamu keluar atau rasa kesal meledak.

Di luar kamu sering dibilang baik, tapi justru kamu sendiri merasa tidak begitu tahu apa yang kamu suka. Tulisan ini melihat perasaan yang biasa disebut ‘sindrom anak baik’ ini dari sisi yang sedikit berbeda. Bukan soal tidak bisa menolak, tapi soal apa yang terjadi pada diri dalammu ketika kebaikan mengeras jadi sebuah peran.

Sindrom anak baik bukan nama penyakit

‘Sindrom anak baik’ bukan diagnosis medis, tapi sebutan sehari-hari untuk kebiasaan terus menomorduakan perasaan sendiri demi memenuhi harapan orang lain. Ini sering terasa akrab bagi orang yang sejak kecil diakui lewat kata-kata seperti “anaknya baik” atau “anaknya nggak pernah merepotkan”.

Yang penting bukan namanya, tapi strukturnya. Bersikap baik itu sendiri bukan masalah. Masalahnya muncul saat kebaikan bukan lagi salah satu dari banyak sisi dirimu, tapi sudah jadi ‘definisi dirimu’. Kalau sudah begitu, menunjukkan sisi yang tidak baik, yaitu rasa tidak suka, kecewa, atau marah, tidak terasa sebagai ungkapan emosi biasa, tapi seperti ‘hal yang bukan aku banget’.

Lagi pula, peran tidak mengeras sendirian. Orang-orang di sekitarmu pun tanpa sadar menganggap sisi itu sebagai setelan bawaanmu. Jadi saat sesekali kamu bilang “aku agak nggak suka sih”, kalimat yang akan terdengar biasa saja kalau diucapkan orang lain malah dibalas dengan “kamu kenapa hari ini?”. Reaksi itu terasa membebani, jadi lain kali kamu kembali memilih sisi yang baik, dan peran itu makin mengeras satu lapis lagi.

Kalau peran mengeras, diri dalammu kehilangan dua hal

Kalau diri luarmu (diri publik) selalu memegang peran orang baik, ada dua hal yang diam-diam hilang dari diri dalammu (diri tersembunyi).

Pertama, selera. Kalau terlalu lama bilang “aku apa aja boleh”, kamu jadi benar-benar tidak tahu apa yang kamu inginkan. Karena tidak ada kesempatan untuk menyebutkan pilihan, kepekaan untuk merasakan pilihan pun ikut kabur. Kamu jadi bingung di depan pilihan kecil seperti menu, tempat liburan, atau rencana akhir pekan bukan karena kamu peragu, tapi karena kepekaan itu sudah lama tidak dipakai.

Kedua, jalan keluar untuk perasaan yang tidak nyaman. Rasa kecewa dan marah yang kamu telan di luar tidak hilang, tapi menumpuk. Lalu saat kamu sendirian, di momen ketika tidak ada yang menuntutmu jadi orang baik, semuanya naik sekaligus. Air mata yang keluar karena menjatuhkan satu gelas bukan karena gelas itu, tapi karena semua yang sudah menumpuk selama ini.

Struktur ini terutama mudah terbentuk pada corak yang kooperatif. Kamu cepat membaca harapan orang lain jadi gampang menyesuaikan diri, dan karena menyesuaikan diri membuatmu dipuji, peran itu makin mengeras. Kalau ditambah corak dengan amplitudo emosi yang lebar, emosi yang kamu rasakan di dalam besar tapi di luar sama sekali tidak terlihat, jadi jarak antara dua sisi itu makin jauh. Kamu terasa sangat lelah saat sendirian karena seluruh tenaga yang dipakai untuk bertahan sejauh jarak itu terasa sekaligus.

Cek sendiri

Hitung berapa banyak kalimat di bawah ini yang bikin kamu berpikir “ini aku banget”.

  • Saat menentukan menu atau tempat janjian, yang keluar duluan adalah “apa aja” atau “terserah kamu enaknya di mana”.
  • Kamu tidak sadar sedang marah saat itu juga, dan baru menyadarinya lama kemudian saat sendirian.
  • Saat mendengar “kamu baik banget sih”, kamu senang tapi sekaligus merasa agak sesak.
  • Makin dekat orangnya, makin sulit mengatakan bahwa kamu kecewa.
  • Pikiran bahwa seseorang mungkin kecewa padamu saja sudah bikin kamu tidak bisa tidur.
  • Saat sendirian, kamu tiba-tiba sedih atau kesal gara-gara hal sepele.

Kalau ada tiga atau lebih, mungkin yang perlu didahulukan adalah latihan mendapatkan kembali suara diri dalammu, bukan teknik menolak. Kalau menolak itu sendiri yang terasa sulit, bagian itu dibahas terpisah di Tidak bisa menolak.

Kalimat yang ditelan di balik kata-kata baik

Kalau kata-kata baik di adegan awal tadi dilihat lagi, di baliknya menempel satu per satu kalimat yang sebenarnya ingin diucapkan diri dalammu.

Yang diucapkan diri luarYang ingin diucapkan diri dalamSatu kalimat yang mencampur keduanya
Aku apa aja bolehHari ini aku pengin makan yang berkuah hangatAku oke semua sih, tapi hari ini agak pengin yang berkuah
Iya, itu lebih bagusDari usulanku, bagian ini ingin aku pertahankanBagus. Boleh kita lihat bareng satu bagian ini saja dari usulanku?
Nggak apa-apa, lain kali ajaIni udah kedua kalinya, jujur aku agak kecewaNggak apa-apa, tapi lain kali kabari agak lebih awal ya

Kalimat-kalimat di sebelah kanan tidak kasar. Kalimat itu hanya menunjukkan bahwa tanpa membuang kebaikanmu pun, kamu bisa menyelipkan kira-kira satu kalimat dari diri dalammu.

Lima latihan mendapatkan kembali diri dalammu

  1. Mulai dari menyebutkan pilihan kecil. Mulailah di situasi yang hampir tanpa risiko. Misalnya di kafe, alih-alih “samain aja kayak kamu”, pilih minuman yang ingin kamu minum, atau saat memilih film, sebutkan dulu satu film yang ingin kamu tonton. Kalau lawan bicaramu ingin yang lain, ikuti saja tidak apa-apa. Tujuannya bukan menang, tapi merasakan pilihanmu dan mengucapkannya sekali.
  2. Di akhir hari, tulis satu baris kalimat yang kamu telan. Sebelum tidur, tulis satu baris saja di aplikasi catatan tentang kalimat yang hari ini kamu telan dalam hati. “Pendapat di rapat tadi, sebenarnya punyaku lebih bagus.” Tidak perlu ditunjukkan ke siapa pun. Begitu emosi diberi nama, ledakan di momen yang tidak terduga jadi berkurang.
  3. Tandai jadwalmu dengan ingin, wajib, dan sungkan. Sambil melihat jadwal minggu ini, tulis di sampingnya apakah itu hal yang kamu lakukan karena ingin, karena harus, atau karena sungkan. Kalau kolom sungkan terlihat sangat banyak, minggu depan coba kurangi satu saja. Misalnya reuni sekolah yang kamu datangi karena sungkan, jangan ikut sampai akhir, cukup ikut di tempat pertama lalu pamit.
  4. Sampaikan satu rasa kecewa kecil ke orang yang kamu percaya. Pilih orang yang hubungannya tidak akan goyah, lalu coba bilang, “Omongan kamu tadi bikin aku agak kecewa.” Lebih sering dari dugaanmu, obrolannya selesai dengan ringan, sekadar “oh gitu ya, maaf”. Inti latihan ini adalah merasakan langsung bahwa hubungan tetap baik-baik saja walau kamu mengucapkan kalimat yang tidak manis.
  5. Buat satu tempat yang tidak membutuhkan kebaikanmu. Di tempat yang tidak ada seorang pun mengharapkan kepedulianmu, misalnya olahraga yang kamu lakukan sendiri atau komunitas hobi yang baru pertama kali kamu datangi, coba bergerak sesuai seleramu. Ini waktu untuk menjadi orang yang sekadar menyukai sesuatu, bukan orang baik.

Jangan salah tangkap

Tulisan ini bukan ajakan untuk membuang kebaikan. Hati yang lebih dulu memikirkan orang lain jelas sebuah kekuatan, dan banyak orang merasa nyaman di dekatmu berkat itu. Yang ingin diubah bukan dirimu yang baik, tapi struktur yang hanya mengizinkan dirimu yang baik.

Kamu juga tidak perlu menyalahkan siapa pun. Cara kamu dipuji waktu kecil mungkin memang berpengaruh, tapi yang perlu dilakukan sekarang bukan mencari penyebab lalu menyalahkan, tapi memberi sedikit ruang untuk diri dalammu. Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, bukan pengganti diagnosis psikologis. Kalau rasa hampa sampai tidak tahu apa yang kamu rasakan berlangsung lama, atau kamu sering runtuh saat sendirian, bicara pelan-pelan dengan konselor profesional juga bisa jadi pilihan yang baik.

Dirimu yang baik dan dirimu yang lelah, dua-duanya kamu

Dirimu yang baik di luar bukan palsu, dan dirimu yang lelah saat sendirian juga bukan berlebihan. Dua-duanya adalah kamu. Hanya saja, kalau satu sisi bisa bicara sementara sisi lain selalu harus menelan, kamu akan lelah sejauh jarak itu. Kalau diri dalammu punya tempat untuk keluar satu kalimat demi satu kalimat, kebaikan pun bukan lagi kewajiban, tapi sisi yang kamu pilih sendiri. Kenapa dua sisi itu bisa ada bersama dalam satu orang bisa kamu baca lebih lanjut di Arti diri publik & diri tersembunyi. Tes kepribadian gratis menampilkan dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah dalam lima ciri kepribadian. Kalau kamu melihat seberapa jauh jarak dua sisi itu pada sifat kooperatif, akan makin jelas di mana kamu merasa lelah.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar