32personas
Tes kepribadian

Orang yang sangat sulit minta maaf

kenapa satu kata “maaf” terasa begitu berat

Bagi orang yang sulit minta maaf, “maaf” tidak terdengar seperti mengakui satu tindakan, tapi seperti vonis atas seluruh dirinya. Tulisan ini merangkum kenapa permintaan maaf yang mudah di luar jadi tersendat di depan orang terdekat, dan lima cara minta maaf dengan memisahkan tindakan dari dirimu.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Kamu pulang ke rumah setelah adu mulut dengan teman. Setelah dipikir-pikir, memang kamu yang bicara terlalu kasar. Kamu membuka ruang chat, mengetik “Yang tadi itu,” lalu menghapusnya. Kamu mulai lagi dengan “Tapi kamu juga,” lalu menghapusnya lagi. Akhirnya keesokan harinya kamu mengirim “Tadi makan siang apa?” seolah tidak terjadi apa-apa. Temanmu juga membiarkannya lewat, tapi rasa bahwa ada selaput tipis yang tumbuh di antara kalian tetap tertinggal.

Yang aneh adalah dirimu di kantor. Dalam sehari kamu bisa beberapa kali bilang “mohon maaf” dengan wajar, tapi satu kata “maaf ya” untuk orang terdekat justru tersangkut di tenggorokan. Tulisan ini membahas kenapa minta maaf terasa begitu berat, pada corak mana hal itu lebih sulit, dan cara mengeluarkan permintaan maaf dengan sedikit lebih ringan.

Minta maaf terasa berat karena kamu mempertaruhkan seluruh dirimu

Bagi orang yang sulit minta maaf, “maaf” tidak terdengar seperti kata untuk mengakui satu tindakan. Kata itu terdengar seperti menandatangani vonis “aku orang yang buruk”. Karena tindakan dan dirimu sebagai orang melekat jadi satu gumpalan, satu kali minta maaf terasa seperti mempertaruhkan seluruh dirimu.

Maka kepala dengan sendirinya mencari alasan untuk membela diri. Bagian yang juga salah dari pihak lain, keadaan yang membuatmu tidak punya pilihan, ucapan orang itu yang memang bisa disalahpahami. Alasan-alasan itu sebagian besar juga benar, jadi makin sulit dilepaskan. Tapi yang ditunggu orang itu bukan daftar alasan. Ia menunggu tanda bahwa kamu tahu bagaimana tindakanmu sampai kepadanya.

Rasa bersalah atas suatu tindakan dan rasa malu atas dirimu sebagai orang adalah dua perasaan yang berbeda. “Ucapan itu salah” adalah hal yang bisa diperbaiki, tapi “aku orang yang salah” tidak terlihat jalan perbaikannya. Orang yang sulit minta maaf ingin mengatakan yang pertama, tapi malah menabrak yang kedua. Karena itu, supaya minta maaf jadi lebih mudah, keduanya harus dipisahkan lebih dulu.

Maaf yang mudah di luar, maaf yang sulit untuk orang terdekat

“Mohon maaf” di kantor terasa mudah karena permintaan maaf itu milik dirimu di depan orang. Dalam pekerjaan, minta maaf lebih mirip pelumas yang membuat urusan berjalan lancar. Itu permintaan maaf dari peranmu, jadi tidak menyentuh dirimu sebagai orang seperti apa.

Minta maaf kepada orang terdekat berbeda. Dalam hubungan itu, yang tampak adalah dirimu saat sendirian, dirimu yang paling tidak dipoles. Mengakui kesalahan di sana terasa bukan seperti meletakkan peran, tapi seperti meletakkan sebagian dari dirimu sendiri. Apalagi orang terdekat tahu masa lalumu, jadi kamu juga takut permintaan maafmu akan disambut dengan “Tuh kan, dulu juga begitu.” Itulah kenapa maaf yang mudah di luar terasa sulit di dalam. Orang yang pandai minta maaf di kantor tapi tidak bisa minta maaf di rumah bukanlah hal yang bertentangan. Yang berbeda hanyalah permintaan maaf itu milik dirimu yang berada di tempat mana.

Tiga corak yang menghalangi permintaan maaf

Corak dengan keramahan rendah. Punya standar sendiri yang jelas dan menganggap penting logika. Minta maaf terasa seperti mengakui bahwa penilaiannya pun salah, jadi ia bertahan. Yang dibutuhkan corak ini adalah memisahkan alasan di balik penilaiannya dari dampak yang diterima orang lain. Penilaiannya bisa saja benar, tapi cara menyampaikannya tetap bisa melukai. Kalau muncul pikiran “Aku kan benar, kenapa aku yang minta maaf?”, persempit apa yang perlu dimintai maaf, dari penilaianmu menjadi cara kamu menyampaikannya.

Corak dengan amplitudo emosi yang lebar. Rasa bersalahnya datang terlalu besar. Rasanya begitu perasaan itu diakui, rasa malu dan menyalahkan diri akan menyerbu sekaligus, jadi pembelaan diri keluar lebih dulu. Ini bukan karena dingin, tapi justru karena merasakannya terlalu besar sampai tidak bisa minta maaf. Kalau setelah minta maaf pun kamu terus menyalahkan diri selama berhari-hari, baca juga Saat harga dirimu terus menurun.

Corak dengan keteraturan tinggi. Standarnya pada diri sendiri tinggi, sehingga satu kesalahan saja membuat retak citra dirinya sebagai “orang yang mengerjakan segalanya dengan benar”. Minta maaf berarti memperlihatkan retakan itu kepada orang lain, jadi terasa lebih sulit. Saat minta maaf pun ia mudah menunda karena sibuk mencari kalimat yang sempurna, padahal sering kali satu baris yang cepat sampai lebih baik daripada tulisan yang dipoles rapi. Perasaan corak yang standarnya tinggi seperti ini dibahas lebih rinci di Perfeksionisme, kekuatan atau belenggu.

Pikiran yang menghalangi maaf, dan kalimat yang bisa dicoba

Ada juga cara melewatinya seolah tidak terjadi apa-apa, seperti “Tadi makan siang apa?” di adegan awal. Untuk sementara memang nyaman, tapi cara ini sama saja dengan menyerahkan rasa sakit hati kepada orang itu untuk dibereskan sendirian. Orang itu membiarkannya lewat bukan berarti semuanya sudah baik-baik saja, bisa jadi ia hanya memutuskan untuk tidak membahasnya. Kalau hal seperti itu menumpuk, selaput di antara kalian pelan-pelan makin tebal. Saat pikiran yang menghalangi maaf muncul, lihat apa yang ditutupi oleh pikiran itu, dan kalimat yang bisa kamu ucapkan sebagai gantinya akan terlihat.

Pikiran yang pertama muncul di kepalaYang ditutupi oleh pikiran ituKalimat yang bisa dicoba
Omonganku kan nggak salahLuka yang diterima orang lain“Bukan isi omonganku, tapi caraku ngomong kayaknya bikin kamu sakit hati.”
Kalau minta maaf, semuanya jadi salahkuMengakui bagianmu saja sudah cukup“Aku nggak tahu apa semuanya salahku, tapi bagian yang ini memang salahku.”
Sudah terlambatMaaf yang terlambat pun tetap sampai“Sudah lewat beberapa hari, tapi masih kepikiran terus, jadi aku mau bilang.”
Alasannya harus dijelaskan dulu supaya salah paham selesaiPermintaan maaf harus sampai lebih dulu“Maaf ya, itu dulu. Alasannya aku ceritakan kalau kamu mau dengar.”

Lima cara yang membantumu mengucapkan maaf

  1. Pisahkan permintaan maaf dari penjelasan. Kata “tapi” dalam “Maaf, tapi” menghapus permintaan maaf sebelumnya. Selesaikan dulu permintaan maafnya, lalu jelaskan terpisah saat orang itu ingin tahu. Mengubah urutannya saja sudah membuat kalimat yang sama terdengar sangat berbeda.
  2. Tunjuk tindakannya dengan tepat. “Maaf kalau kamu tersinggung” tidak terdengar seperti permintaan maaf. Coba tunjuk satu tindakan, seperti “Maaf ya kemarin aku memotong omonganmu dan cuma cerita soal diriku.” Permintaan maaf yang spesifik terdengar tulus, dan cakupan yang diakui pun menyempit ke satu tindakan itu, sehingga beban bagi yang mengucapkannya juga berkurang.
  3. Tambahkan satu hal yang akan kamu lakukan berikutnya. “Lain kali aku dengar sampai selesai dulu, baru ngomong.” Satu hal yang bisa ditepati lebih baik daripada janji yang muluk-muluk. Satu hal itu menjadi jembatan yang menyambungkan permintaan maaf ke tindakan, bukan berhenti di kata-kata. Janji yang tidak bisa ditepati hanya menambah satu hal lagi yang perlu dimintai maaf.
  4. Kalau sulit diucapkan, mulai lewat tulisan juga boleh. Saat bicara bertatap muka, kadang emosi meluap lebih dulu. Saat seperti itu, minta maaf lebih dulu lewat pesan, lalu saat bertemu berikutnya tambahkan satu kalimat, “Pesan yang waktu itu, aku serius.” Lewat tulisan pun, prinsipnya sama: buang penjelasan dan tunjuk satu tindakan.
  5. Jangan jadikan jawaban orang itu sebagai syarat. Setelah kamu minta maaf, orang itu mungkin belum langsung luluh. Coba tambahkan, “Nggak harus langsung bilang nggak apa-apa, kok.” Minta maaf bukan transaksi, tapi cara menghargai waktu yang dibutuhkan orang itu untuk menata perasaannya. Kalau ia minta waktu, “Oke, aku tunggu” sudah cukup.

Jangan dibaca seperti ini

  • Ini bukan berarti kamu harus selalu minta maaf duluan apa pun yang terjadi. Justru corak dengan keramahan sangat tinggi kadang minta maaf duluan bahkan untuk hal yang bukan kesalahannya, sampai menghapus dirinya sendiri. Tulisan ini untuk mereka yang permintaan maafnya tersangkut di tenggorokan.
  • Sulit minta maaf juga bukan berarti kamu orang yang egois. Bisa jadi kamu merasakan beratnya permintaan maaf lebih besar daripada orang lain.
  • Kalau dalam sebuah hubungan selalu hanya kamu yang harus minta maaf, atau orang itu menyudutkanmu dengan terus menuntut maaf, yang perlu ditinjau bukan teknik minta maaf, tapi hubungan itu sendiri. Kalau sulit menilainya sendirian, cobalah bicara dengan orang yang bisa kamu percaya atau tenaga profesional.

Penutup

Minta maaf bukan meletakkan seluruh dirimu, tapi memberi tahu bahwa kamu tahu bagaimana satu tindakanmu sampai kepada orang lain. Kalau tindakan dan dirimu dipisahkan, “maaf” terasa lebih ringan daripada yang kamu kira. Kalau hari ini ada permintaan maaf yang tersangkut di tenggorokan, buang alasannya, tunjuk satu tindakan saja, lalu kirim lebih dulu. Lebih sering daripada yang kamu kira, yang kembali adalah “Aku juga minta maaf.” Satu kalimat yang diucapkan lebih dulu itu melepaskan kata-kata yang selama ini digenggam kalian berdua.

Tes kepribadian gratis menunjukkan dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah lewat lima ciri kepribadian. Kalau kamu melihat di mana posisi keramahan dan emosionalitasmu dalam dua situasi itu, kamu akan tahu kenapa maaf yang mudah di luar terasa sulit di depan orang terdekat.

Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, dan tidak menggantikan diagnosis psikologis atau konseling.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar