32personas
Tes kepribadian

Suka tapi malah menjaga jarak

alasan sebenarnya di balik kelekatan menghindar

Makin dekat, balasanmu makin lambat dan kamu makin ingin sendirian? Menjaga jarak sering kali bukan tanda perasaanmu sudah dingin, tapi tanda hatimu sedang terlalu riuh, dan tulisan ini membantumu membedakan keduanya serta berlatih tetap tinggal tanpa kabur.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Ada hari kencan yang terasa istimewa. Kalian jalan lama, dan untuk pertama kalinya kalian saling cerita soal masa kecil. Sampai di rumah, masuk pesan “hari ini seru banget”, tapi anehnya aku nggak bisa membalasnya. Besoknya aku mulai mengurangi kontak, dan janji akhir pekan kutunda dengan alasan “minggu ini agak sibuk”. Padahal dia jelas orang baik, dan aku juga suka dia. Setelah itu aku jadi bertanya pada diri sendiri. Kenapa setiap kali mulai dekat aku malah mundur selangkah? Apa aku memang orang yang nggak bisa mencintai?

Bukan begitu. Menjaga jarak biasanya bukan karena hatimu kosong, tapi karena makin dekat, isi hatimu makin riuh. Di tulisan ini kita akan urai satu per satu dari mana keriuhan itu datang, bagaimana membedakan rasa kewalahan dari perasaan yang sudah dingin, dan latihan kecil untuk tetap tinggal tanpa kabur.

Luarnya tenang, dalamnya riuh

Dalam psikologi, pola menjaga jarak justru saat makin dekat ini disebut kelekatan menghindar. Dari namanya, orang gampang membayangkan sosok yang dingin dan cuek. Padahal kalau dilihat ke dalam, sering kali kenyataannya justru kebalikannya.

Orang seperti ini jarang menunjukkan emosi di luar. Saat bertengkar suaranya tidak meninggi, dan saat kecewa pun ia bilang “nggak apa-apa”. Kalau cuma melihat dirinya di depan orang, ia tampak seperti orang yang amplitudo emosinya sangat sempit. Tapi saat sendirian, lain ceritanya. Ia memutar ulang obrolan hari itu berkali-kali, merasakan harapan pasangannya sebagai beban yang berat, dan diam-diam tegang karena takut tidak bisa memenuhi harapan itu. Singkatnya, di luar gelombangnya sempit, di dalam gelombangnya lebar.

Makin besar jarak di antara keduanya, makin berat rasanya kedekatan. Hubungan yang makin dalam berarti pasanganmu melewati dirimu yang di luar dan masuk ke arah dirimu yang di dalam. Saat seseorang masuk ke tempat yang belum pernah dimasuki siapa pun, yang datang lebih dulu bukan rasa senang, melainkan “terus aku harus gimana sekarang?”. Karena itu kamu mundur selangkah. Bukan untuk mendorong pasanganmu pergi, tapi untuk mengulur waktu agar hati yang riuh itu bisa tenang lagi.

Alasan kamu jadi sangat pendiam setelah hari yang menyenangkan pun sama. Hari yang menyenangkan biasanya adalah hari ketika kamu memperlihatkan dirimu yang di dalam lebih banyak dari biasanya. Yang datang keesokan harinya bukan penyesalan, melainkan rasa seperti sudah membuka diri terlalu lebar, jadi kamu menutup pintunya lagi sedikit.

Kalau corak keramahanmu juga tinggi, perasaan ini jadi makin rumit. Bagi orang yang pandai membaca harapan orang lain, makin dekat sebuah hubungan, makin terasa banyak harapan yang harus dipenuhi. Kabari setiap hari, ketemu setiap akhir pekan, jangan sampai dia kecewa. Begitu cinta mulai terasa seperti daftar tugas yang harus diselesaikan, wajar saja kalau muncul keinginan untuk mundur.

Ingin sendirian tidak sama dengan kabur

Ada satu hal yang perlu dibedakan di sini. Orang dengan corak yang terisi ulang saat sendirian memang butuh waktu untuk dirinya sendiri. Setelah bertemu orang, ia perlu mengisi ulang dengan tenang supaya pertemuan berikutnya juga terasa menyenangkan. Ini bukan menghindar, melainkan caranya memakai dan mengisi energi. Perbedaan ini dibahas lebih rinci di Aku introvert, tapi bukan berarti benci orang.

Menghindar bergerak dengan cara yang sedikit berbeda. Kamu mundur bukan karena lelah, tapi karena jadi dekat. Karena itu, ada ciri khas kalau kamu perhatikan kapan kamu mundur. Alarm justru berbunyi bukan setelah bertengkar, melainkan setelah hari yang sangat menyenangkan, saat pasangan bertanya “sebenarnya kita ini apa?”, atau saat masa depan hubungan jadi bahan obrolan, seperti cerita soal keluarga atau rencana tahun depan. Sebaliknya, saat pasangan sedikit menjauh, barulah hatimu lega, dan kadang kamu malah jadi kangen.

Alarm seperti ini biasanya lahir dari pengalaman. Kalau pengalaman kecewa setelah bersandar pada orang lain terus menumpuk, hati belajar bahwa menyelesaikan semuanya sendiri itu lebih aman. Pelajaran itu tertinggal sebagai alarm yang berbunyi “kalau makin dekat, aku bisa terluka”. Itulah sebabnya alarm tidak mati hanya karena kamu bertekad “mulai sekarang aku nggak akan kabur lagi”. Kamu perlu tahu dulu kapan alarm itu berbunyi, baru kamu bisa menanganinya.

Kewalahan, atau perasaannya sudah dingin?

Saat ingin menjaga jarak, pertanyaan yang paling membingungkan adalah ini. Apa aku sudah tidak suka orang ini, atau kedekatan ini yang terasa berat? Coba lihat tabel di bawah dan perhatikan dirimu lebih dekat ke sisi yang mana. Hasilnya akan lebih akurat kalau kamu melihatnya beberapa hari kemudian, saat hatimu sudah tenang, bukan tepat setelah kamu mundur.

Momen yang perlu diperhatikanSaat kedekatan terasa beratSaat perasaan sudah dingin
Setelah beberapa hari sendirianKamu jadi ingin bertemu lagiDia tidak terlalu terlintas di pikiran
Kabar baik dari pasanganKamu senang, tapi canggung mengungkapkannyaKamu tidak begitu penasaran
Kapan rasa tidak nyaman munculDi depan obrolan yang membuat hubungan makin dalamBahkan dalam keseharian yang biasa saja
Setelah menjaga jarakLega dan rasa kehilangan datang bersamaanYang tersisa hanya rasa lega
Kalau pasangan menjauh duluanKamu jadi cemas dan ingin menahannyaKamu malah merasa plong

Kalau kamu lebih dekat ke kolom kiri, yang perlu dicari lebih dulu adalah cara mengatur kecepatan, bukan alasan untuk mengakhiri hubungan. Kalau hampir semuanya ada di kolom kanan, mungkin ini bukan soal menghindar, melainkan saatnya melihat hubungan itu sendiri dengan jujur. Cukup sering juga keduanya bercampur. Kalau begitu, tidak perlu buru-buru menyimpulkan sekaligus. Tidak apa-apa mengamatinya selama beberapa minggu.

Lima latihan untuk tetap tinggal tanpa kabur

  1. Catat momen saat alarm berbunyi. Coba tulis catatan singkat setiap kali kamu ingin menunda membalas pesan. Misalnya “saat obrolan soal liburan akhir pekan muncul” atau “saat dia bilang kangen”. Tulis juga apa yang kamu lakukan saat itu di sebelahnya. Apakah kamu sengaja menunda balasan, atau pura-pura sibuk padahal tidak. Menulis selama seminggu saja sudah cukup untuk melihat di adegan mana alarmmu berbunyi. Kalau kamu tahu adegannya, kamu bisa mengatur napas lebih dulu sebelum sampai di sana.
  2. Kirim satu kalimat di hari setelah hari yang menyenangkan. Waktu yang paling rawan untuk mundur adalah sehari setelah hari paling menyenangkan. Khusus di hari itu, jadikan kebiasaan untuk mengirim satu kalimat duluan: “kemarin seru banget”. Tidak perlu panjang. Satu kalimat itu menyambung alur yang hampir putus.
  3. Keluarkan perasaan mulai dari satu kata. Saat ditanya “lagi mikirin apa?”, daripada menjawab “nggak ada apa-apa”, coba berikan satu kata atau satu kalimat saja, seperti “agak kewalahan” atau “aku belum bisa merapikan pikiranku, nanti aku cerita ya”. Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya. Cukup jadi tanda bahwa kamu tidak menutup pintu.
  4. Minta satu bantuan kecil. Mulailah dari permintaan yang mudah dipenuhi pasanganmu, seperti “bisa bawain payung pas pulang kerja nanti?”. Kalau pengalaman bersandar tanpa terjadi apa-apa terus menumpuk, pelajaran lama bahwa bersandar itu berbahaya pelan-pelan akan memudar.
  5. Beri tahu polamu lebih dulu. Sekali saja, sampaikan saat hubungan kalian sedang baik. “Kadang aku jadi agak pendiam sehari setelah hari yang menyenangkan. Itu bukan karena perasaanku ke kamu dingin, tapi karena aku sedang menyesuaikan kecepatan.” Orang yang sudah mendengarnya lebih dulu tidak akan membaca diam yang sama sebagai penolakan.

Jangan dibaca seperti ini

Istilah tipe menghindar hanyalah salah satu dari banyak cara untuk menjelaskan dirimu, bukan label yang mengurungmu. Orang yang sama bisa mendekat dengan nyaman dalam satu hubungan, tapi terus mundur dalam hubungan lain. Lagi pula, tidak semua tindakan menjaga jarak adalah menghindar. Kalau pasanganmu tidak menghargaimu atau hubungan itu terus-menerus membuatmu lelah, keinginan untuk mundur bisa jadi bukan alarm, melainkan penilaian yang tepat.

Sebaliknya, “karena aku tipe menghindar” juga jangan sampai jadi alasan untuk memutus kontak tanpa kata. Mengetahui alasannya dan bertanggung jawab adalah dua hal yang berbeda. Daripada menjelaskan “aku memang begini” lalu selesai, akan jauh lebih membantu hubungan kalian kalau kamu mengajak pasangan mencoba salah satu latihan di atas bersama-sama. Kalau rasa sesak setiap kali makin dekat terlalu besar, atau luka dari hubungan sebelumnya terus menahan langkahmu, berbicara pelan-pelan dengan konselor profesional juga bisa jadi cara yang baik.

Dengan kecepatan yang pas untukmu

Menjaga jarak padahal suka bukan berarti cintamu kurang. Pengalamanmu memperlihatkan dirimu yang di dalam kepada seseorang masih sedikit, jadi kecepatan orang lain masuk ke tempat itu terasa berat. Kalau kamu belajar mengatur kecepatannya, kedekatan juga pelan-pelan akan terasa lebih nyaman. Kalau pasanganmu justru tipe yang terus mendekat sehingga tarik-ulur di antara kalian terus berulang, lanjutkan dengan membaca Saat tipe cemas bertemu tipe menghindar.

Tes kepribadian gratis menunjukkan dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah lewat lima ciri kepribadian. Kalau kamu melihat seberapa berbeda amplitudo emosimu dalam dua situasi itu, alasan kenapa kamu diam-diam mundur akan jadi jauh lebih jelas.

Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, dan tidak menggantikan diagnosis atau terapi psikologis.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar