32personas
Tes kepribadian

Aku introvert, tapi bukan berarti benci orang

Habis main seru lalu baterai sosialmu habis bukan karena kamu benci orang. Tulisan ini merangkum kenapa rasa senang dan energi bergerak sendiri-sendiri, apa yang menguras baterai, dan cara tidak terlalu lelah tanpa harus mengurangi janji.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Kamu bertemu teman-teman kuliah setelah sekian lama. Cerita lucu tidak ada habisnya, dan "bulan depan ketemu lagi ya" yang diucapkan saat berpisah juga tulus. Tapi setelah mengirim "hari ini seru banget" ke grup chat di kereta, menggerakkan satu jari pun rasanya malas. Sampai di rumah, kamu berbaring lama tanpa menyalakan lampu. Lalu terlintas pikiran, "Jangan-jangan sebenarnya aku benci orang?"

Bukan begitu. Rasa senangnya nyata, rasa lelahnya juga nyata. Kalau tahu keduanya bisa terjadi bersamaan dalam satu malam, pertanyaan ini jadi jauh lebih ringan. Tulisan ini membahas apa tepatnya yang terkuras saat bertemu orang, dan cara supaya tidak terlalu terkuras tanpa harus mengurangi janji.

Rasa senang dan energi bergerak sendiri-sendiri

Biasanya kita mengira hati hanya punya satu meteran. Meteran yang naik kalau senang dan turun kalau tidak suka. Padahal kenyataannya lebih dekat ke dua meteran. Meteran yang menunjukkan seberapa senang kamu, dan meteran yang menunjukkan seberapa banyak tenagamu yang tersisa.

Corak dengan sosialitas tinggi cenderung punya dua meteran yang naik bersama. Selama mengobrol dan tertawa bersama orang, tenaganya ikut terisi. Sebaliknya, pada corak yang terisi saat sendirian, selama rasa senang naik pun, tenaganya turun sedikit demi sedikit. Jadi "seru sih, tapi capek" bukan kontradiksi. Dua meteran itu hanya menjalankan tugasnya masing-masing.

Kalau tidak tahu ini, kamu jadi salah paham menganggap baterai habis sebagai 'bukti bahwa sebenarnya tadi nggak seru'. Lalu hubungan yang baik pun ikut kamu ragukan. Kalau sudah tahu, baterai habis hanyalah tagihan. Kamu sudah menghabiskan waktu yang menyenangkan, jadi tinggal istirahat sebanyak itu.

Dua meteran ini juga berguna saat memilih janji. Tanyakan terpisah, "apa aku ingin pergi" dan "apa aku punya tenaga untuk pergi". Di hari kamu ingin pergi tapi tenaganya kurang, alih-alih pasti pergi atau pasti absen, muncul pilihan untuk datang sejam saja menyapa lalu pulang.

Yang menguras bukan orangnya, tapi kondisinya

Lalu apa tepatnya yang mengambil tenagamu saat bertemu orang? Bukan orangnya sendiri, tapi kondisi-kondisi yang ikut menyala saat kamu bersama orang.

  • Diri luar yang harus terus dinyalakan. Di depan orang, kamu terus menjaga ekspresi, respons, dan waktu yang pas untuk bicara. Makin jauh jarak antara diri luar dan dirimu saat sendirian, makin besar tenaga yang dibutuhkan untuk terus menyalakan sisi itu. Itulah kenapa tiga jam yang sama tidak terlalu menguras bersama dua teman yang nyaman, tapi jauh lebih menguras bersama sepuluh orang yang setengah kenal.
  • Rangsangan yang masuk sekaligus. Di tempat dengan obrolan yang bercabang-cabang, musik keras, dan orang di sebelahmu yang terus berganti, walau kamu tidak banyak bicara pun banyak hal yang harus diolah.
  • Waktu yang tidak kelihatan ujungnya. Di acara yang tidak jelas kapan selesai, dalam hati kamu terus menghitung sisa tenaga. Menghitung itu juga butuh tenaga.
  • Tempat tanpa kegiatan. Kalau ada tugas yang dipegang malah nyaman, tapi di acara yang cuma harus berbaur, setiap saat kamu harus memutuskan sendiri mau melakukan apa.

Kalau dipilah seperti ini, "kayaknya aku benci orang" berubah jadi "oh, aku cepat terkuras di kondisi seperti ini". Orang sulit diubah, tapi kondisi bisa diubah.

Pemulihan juga punya kondisi. Walau sampai rumah kamu berbaring sendirian, kalau terus memantau grup chat dan membalas komentar di foto hari ini, diri luarmu masih belum mati. Badan sendirian, tapi kepala masih di tengah acara. Bagi corak yang terisi saat sendirian, isi ulang yang sebenarnya bukan sekadar waktu sendiri, tapi lebih dekat ke waktu ketika kamu tidak perlu merespons siapa pun. Menjauhkan ponsel sejam saja bisa mengubah kecepatan pulihmu.

Acara yang sama, malam dua orang

Misalkan ada dua orang di satu acara. Satu orang dari corak yang terisi di tengah orang, satu lagi dari corak yang terisi saat sendirian.

MomenCorak yang terisi di tengah orangCorak yang terisi saat sendirian
Tidak lama setelah datangSuaranya makin keras dan makin semangatSenang bertemu, tapi sedikit tegang karena menyesuaikan suasana
Sekitar dua jam kemudianRasanya baru mulai benar-benar seruMasih senang, tapi mulai makin jarang bicara
Saat ada yang ngajak lanjut ke tempat keduaLangsung ikut tanpa pikir panjangKeinginan untuk tetap di sana dan ingin pulang saling bertabrakan
Setelah sampai rumahMasih terbawa suasana dan ingin ngobrol lagi dengan seseorangIngin lama tidak melakukan apa pun di kamar yang sepi
Keesokan harinyaIngin langsung bikin janji berikutnyaIngin sedikit menunda balasan di grup chat

Dua-duanya menikmati hari itu. Yang berbeda adalah apa yang dibutuhkan setelah waktu yang menyenangkan. Dan kebanyakan orang tidak pas di salah satu kolom, tapi ada di antara keduanya. Banyak juga orang yang di acara bersama orang asing ada di kolom kanan, tapi bersama dua sahabat lama jadi kolom kiri. Orang seperti ini kadang disebut ambivert, tapi yang lebih penting dari namanya adalah tahu di kondisi apa kamu condong ke sisi mana.

Cek sendiri baterai sosialmu

Ingat beberapa acara terakhir, lalu pilih baris yang cocok denganmu.

  • Kamu jauh lebih capek setelah acara yang ramai daripada acara yang sedikit orang.
  • Di hari yang menyenangkan pun, kamu sering sudah capek saat sampai rumah.
  • Acara yang ada peranmu justru lebih nyaman daripada acara yang cuma main-main.
  • Janji yang jam selesainya sudah jelas terasa lebih ringan.
  • Kalau ada waktu sendiri keesokan hari setelah acara, kamu cepat pulih.

Kalau ada tiga baris atau lebih yang cocok, besar kemungkinan masalahnya bukan orangnya, tapi kondisinya. Baris yang kamu tandai adalah kondisi yang bisa kamu coba ubah di acara berikutnya.

Lima cara tidak terlalu terkuras tanpa mengurangi janji

  1. Saat datang, sebutkan dulu jam pulangmu. "Hari ini aku pulang sekitar setengah sepuluh, ya." Kalau diucapkan dari awal, ujungnya terlihat sehingga hitungan dalam hati berhenti, dan saat pamit pun tidak ada suasana tidak enak.
  2. Pegang peran kecil di acara itu. Misalnya memanggang daging, memilih menu, memotret, atau mengurus yang datang terlambat. Kalau tanganmu punya kegiatan, kamu bisa tetap berada di sana dengan wajar tanpa harus terus menyambung obrolan.
  3. Buat celah 5 menit di tengah acara. "Aku cari angin sebentar ya" adalah kalimat yang tidak akan dianggap aneh oleh siapa pun. Selama 5 menit berjalan ke minimarket lalu kembali, matikan dulu diri luarmu sebentar. Lima menit itu yang membuatmu bisa bertahan satu jam sisanya.
  4. Tentukan tanda baterai habis dari awal. Kalau kata-kata sulit keluar, kamu cuma menjawab "iya, iya" ke omongan orang, atau terus melirik jam di ponsel, itulah tandanya. Kalau kamu sudah memutuskan untuk pamit dalam 30 menit begitu tanda itu muncul, hari-hari ketika kamu pulang dengan baterai sampai nol akan berkurang.
  5. Beri tahu dalam satu kalimat bahwa kamu sedang memulihkan diri. Bilang dulu ke orang terdekat, "Sehari setelah kumpul, aku balas chat agak lama ya. Bukan karena kesal kok." Waktu istirahatmu jadi benar-benar waktu istirahat, tanpa salah paham.

Jangan salah tangkap

  • Terisi saat sendirian bukan berarti kamu kurang suka orang. Orang yang sangat menyayangi orang lain pun bisa mengisi ulang saat sendirian.
  • Ini juga bukan berarti kemampuan sosialmu kurang. Banyak orang yang di acara berbaur lebih baik daripada siapa pun, lalu baterainya habis begitu sampai rumah.
  • Ini juga bukan ajakan untuk memangkas semua janji. Sebelum mengurangi, ubah dulu kondisinya.
  • Kalau istirahat sendirian pun tidak juga memulihkanmu, dan hari-hari ketika semuanya terasa malas berlangsung lama, itu mungkin cerita yang berbeda dari cara mengisi energi. Saat seperti itu, baca juga Belakangan semua terasa malas dan lelah.

Penutup

Hati yang menyukai orang dan hati yang ingin sendirian tidak saling menolak. Dua-duanya corak yang membentuk dirimu, dan kalau urutannya pas, dua-duanya bisa kamu jaga. Kalau kamu penasaran apa yang tumbuh di waktu sepi saat sendirian, lanjutkan dengan Kekuatan orang yang pendiam.

Tes kepribadian gratis menampilkan dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah dalam lima ciri kepribadian. Kalau kamu melihat seberapa jauh sosialitasmu berbeda di dua situasi itu, kamu bisa menebak dalam situasi seperti apa baterai sosialmu paling cepat habis.

Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, bukan pengganti diagnosis atau terapi psikologis.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar

Aku introvert, tapi bukan benci orang · memahami energi sosial | 32personas