32personas
Tes kepribadian

Aku yang kebanyakan mikir, apa ini kekurangan?

Kamu yang merevisi satu pesan singkat berkali-kali, itu bukan kekurangan, melainkan kehati-hatian. Hanya saja, pikiran yang bergerak maju dan pikiran yang berputar di tempat yang sama perlu dibedakan, dan di sini kami rangkum patokan untuk membedakannya serta cara keluar dari putarannya.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Butuh sepuluh menit sampai kamu akhirnya mengirim satu baris ke grup chat, “Kumpul minggu depan, di sini gimana?” Mau ditambah apa setelah tanda tanya, jangan-jangan kelihatan terlalu semangat, atau seharusnya tanya pendapat yang lain dulu. Setelah terkirim, selama lima menit belum ada yang membalas, kamu membaca kalimat itu lagi. Malamnya saat berbaring, kata-katamu ke rekan kerja siang tadi terlintas. “Omonganku tadi kedengaran agak dingin, nggak, ya?” Obrolannya sudah selesai, tapi di kepalamu masih berlangsung.

Kalau kamu pernah merasa, “Kenapa sih aku kebanyakan mikir?”, tulisan ini bisa membantu. Banyak berpikir jelas bisa jadi kekuatan. Hanya saja, sesama pikiran pun, pikiran yang bergerak maju dan pikiran yang berputar di tempat yang sama melakukan pekerjaan yang sama sekali berbeda. Kita akan merapikan patokan untuk membedakan keduanya, dan cara keluar saat kamu mulai berputar.

Banyak berpikir artinya kamu berhati-hati

Membayangkan berbagai kemungkinan sebelum memutuskan, menimbang posisi orang lain dua-tiga kali, dan bersiap lebih dulu untuk hal yang mungkin terjadi. Kebiasaan orang yang banyak berpikir ini mengurangi kesalahan dan menangkap celah yang terlewat oleh orang lain. Bagi orang di dekatnya, kebiasaan ini juga memberi rasa percaya, “Orang ini benar-benar memikirkanku dalam-dalam.”

Tempat kehati-hatian ini bersinar juga jelas. Orang yang saat menyusun jadwal liburan sampai menyiapkan rencana cadangan untuk hari hujan, orang yang membaca sekali lagi pasal kecil di kontrak, orang yang membaca ulang pesan permintaan maaf yang penting dari sudut pandang penerimanya, biasanya mereka termasuk yang banyak berpikir. Masalahnya, kemampuan ini juga berputar dengan kekuatan yang sama di tempat yang tidak membutuhkannya.

Cara pikiran jadi banyak juga sedikit berbeda di tiap corak. Corak yang tertarik pada hal baru, pikirannya melebar karena membentangkan kemungkinan ke banyak cabang. Corak yang tinggi di keramahan, pikirannya memanjang karena menimbang bagaimana kata-katanya sampai ke orang lain. Corak dengan amplitudo emosi yang lebar, emosinya menempel pada adegan yang sekali mengganjal, sehingga adegan yang sama lebih sering teringat.

Pikiran yang maju dan pikiran yang berputar

Dari luar, keduanya sama-sama terlihat “sedang mikir”. Tapi cukup lihat beberapa hal, langsung bisa dibedakan.

Yang perlu dilihatPikiran yang majuPikiran yang berputar
Bentuk pertanyaanSekarang aku perlu melakukan apa?Kenapa aku begitu? Bagaimana kalau waktu itu aku ngomong lain?
Informasi baruSetiap satu putaran, ada sesuatu yang bertambahAdegan yang sama berulang dengan urutan yang sama
Tempat berakhirBerlanjut ke keputusan atau tindakanBerhenti dengan perasaan yang makin berat saja
Rasa di tubuhSedikit lebih ringan karena makin tertataBahu kaku dan kantuk hilang

Kehati-hatian jadi kekuatan saat berada di kolom kiri. Begitu pindah ke kolom kanan, pikiran tidak lagi bekerja, melainkan mengikis hati.

Ada juga patokan yang lebih sederhana. Lihat apakah setelah selesai berpikir ada tindakan berikutnya yang bisa kamu tulis. Kalau keluar satu baris seperti “besok pagi tanya ke atasan”, itu pikiran yang maju. Kalau sudah berpikir satu jam tapi tidak ada satu pun yang bisa ditulis, waktu itu kamu habiskan berputar di tempat yang sama.

Kenapa terus berputar di tempat yang sama

Pikiran yang berputar punya tujuan tersembunyi, yaitu mengurangi rasa tidak nyaman. Jawaban dari pertanyaan “Apa omonganku kedengaran dingin?” ada pada orang itu, bukan di kepalamu. Tapi kamu tetap terus memikirkannya karena selama berpikir, rasanya seperti sedang melakukan sesuatu, jadi cemasnya sedikit berkurang. Pikiran dipakai bukan sebagai alat untuk memecahkan masalah, melainkan sebagai alat untuk menenangkan kecemasan. Kecemasan itu turun sebentar lalu naik lagi, jadi kamu berpikir lagi, dan begitulah lingkarannya terbentuk.

Selain itu, di dalam kepala, pengulangan tidak gampang terlihat. Meski sudah memikirkan hal yang sama untuk kesepuluh kalinya, setiap kali rasanya seperti baru pertama. Karena itu terus muncul perasaan bahwa kalau berpikir sedikit lagi saja, jawabannya akan ketemu.

Tidak membedakan bobot keputusan juga jadi salah satu alasannya. Ada keputusan yang bisa dibatalkan, ada yang sulit dibatalkan. Pindah kerja atau pindah rumah memang layak dipikirkan lama. Tapi tempat kumpul atau tanda tanya di akhir pesan, kalau salah pun tinggal diubah lain kali. Orang yang banyak berpikir sering memikul keduanya dengan bobot yang hampir sama. Karena keputusan ringan diberi porsi pikiran sebesar keputusan berat, di akhir hari kepalanya selalu kepanasan.

Ada petunjuk juga di antara aku di luar dan aku di dalam. Orang yang banyak berpikir sering kali justru terlihat pendiam dan tenang di luar. Karena sebelum kata-kata keluar, semuanya disaring dulu di dalam. Kata yang keluar mungkin cuma satu kalimat, tapi di dalam sudah bolak-balik sepuluh kalimat. Saringan yang tadinya berupa kehati-hatian selama obrolan, setelah obrolan selesai berubah jadi alat pemutar ulang. Makin jauh jarak antara aku di depan orang dan aku saat sendirian, makin banyak pula yang disaring sebelum dikeluarkan.

Lima cara keluar dari pikiran yang berputar

  1. Ubah bentuk pertanyaannya. Coba ganti “Kenapa aku ngomong begitu?” jadi “Kalau lain kali ada situasi mirip, aku mau bilang apa?” Begitu pertanyaan yang mengarah ke masa lalu kamu putar ke depan, pikiranmu pindah ke kolom kiri. “Kenapa” berhenti di adegan yang sudah lewat, “bagaimana” bergerak ke adegan berikutnya.
  2. Hal yang bisa dicek, cek di luar kepala. Kalau kata-katamu ke rekan kerja terus mengganjal, besoknya tanyakan dengan santai. “Omonganku kemarin kedengaran dingin, nggak? Aku nggak bermaksud begitu, kok.” Bertanya sekali lebih cepat daripada berputar seratus kali di kepala. Kalau hubungannya sulit untuk ditanya langsung, boleh diganti dengan melihat sikapnya saat bertemu berikutnya. Kalau dia menyapamu sama seperti kemarin, itulah jawabannya.
  3. Keluarkan pikiranmu ke atas kertas. Jangan merapikan kalimat, tulis saja apa yang terlintas. Kalau yang tadi berputar di kepala kamu tulis apa adanya, akan terlihat kalimat yang sama berulang berkali-kali. Kalau kalimat yang sama sudah muncul untuk ketiga kalinya, berarti pikiran itu sudah cukup untuk hari ini. Kertasnya boleh dibuang. Tujuannya memang hanya mengeluarkannya.
  4. Tentukan tenggat berpikir sesuai bobot keputusannya. Kehati-hatian juga butuh tenggat. Tanyakan dulu apakah hal itu bisa dibatalkan, kalau bisa, selesaikan dengan singkat. Misalnya pesan di grup chat dikirim setelah direvisi dua kali, menu makan malam diputuskan dalam 5 menit, dan hanya keputusan yang sulit dibatalkan yang diputuskan setelah tidur semalam. Menutup ruang chat setelah mengirim pesan sampai balasan datang juga termasuk dalam tenggat itu. Kalau ada patokan, berhenti bukan lagi berarti menyerah, melainkan selesai.
  5. Begitu mulai berputar, pindahkan posisi tubuhmu. Kalau di kasur adegan yang sama mulai berputar, bangun lalu minum segelas air, cuci piring, atau keluar sebentar ke balkon. Kalau tubuh bergerak, pikiran juga ikut pindah ke ruangan lain. Kalau kasur sudah jadi tempat untuk memikirkan masalah, cukup berbaring saja pikiranmu gampang mulai berjalan. Membagi tempat juga bagus, memikirkan masalah di meja, tidur di kasur.

Jangan dibaca seperti ini

Banyak berpikir bukan berarti kamu penakut atau tidak punya ketegasan. Mengurangi pikiran yang berputar pun bukan ajakan untuk jadi kurang hati-hati, melainkan ajakan untuk memakai kehati-hatian di tempat yang membutuhkannya. Ini juga bukan berarti orang yang sedikit berpikir lebih bahagia. Orang yang cepat memutuskan juga punya kesalahan khas orang yang cepat memutuskan.

Tapi kalau kamu susah tidur setiap malam karena khawatir, atau hari-hari saat kamu tertahan di pikiran yang sama sampai sulit fokus kerja atau belajar sudah berlangsung lama, jangan coba merapikannya sendirian saja. Bicara dengan dokter atau konselor juga salah satu cara yang baik untuk mengeluarkan pikiran dari kepalamu.

Simpan kehati-hatiannya, kurangi putarannya saja

Banyak berpikir bukan kekurangan yang harus diperbaiki. Cukup dengan menyadari ke arah mana pikiranmu mengalir, pikiran yang banyak itu bisa langsung jadi kekuatan. Kalau pikiranmu jadi sangat panjang terutama menjelang keputusan, baca juga Aku susah ambil keputusan, apa aku peragu?. Kalau karena kebanyakan mikir kamu terus menunda untuk mulai, baca juga Aku yang terus menunda, apa aku malas?. Di tes kepribadian gratis, kalau kamu melihat dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah, akan sedikit lebih jelas di tempat mana kehati-hatianmu bersinar dan di tempat mana ia menahanmu.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar