32personas
Tes kepribadian

Aku yang gelisah kalau belum sempurna, boleh nggak sih sedikit melepas?

Semua sudah selesai, tapi kamu tetap tidak bisa lepas tangan dan membuka filenya lagi? Tanpa menurunkan standar, tulisan ini merangkum latihan menentukan lebih dulu sampai mana tiap pekerjaan dikerjakan, lalu melepaskannya.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Jam sebelas malam. Proposal yang harus dikumpulkan besok pagi sebenarnya sudah selesai sejak sore. Tapi kamu tidak bisa menutup laptop. Ketebalan garis tabel kamu ubah lalu kamu kembalikan, kalimat pertama kamu tulis ulang tiga kali, dan akhirnya yang tersimpan adalah file yang hampir sama dengan versi awal. Rekan kerjamu sudah bilang “segini udah cukup”, tapi di satu sudut hati masih terus terdengar “sedikit lagi”. Besok paginya saat dibuka lagi, kamu bahkan tidak begitu ingat apa yang semalam kamu perbaiki.

Standar yang tinggi bukan masalah. Masalahnya, tidak ada yang menentukan di mana garis akhirnya. Alih-alih menggali akar perfeksionisme, tulisan ini fokus pada latihan melepaskan genggaman dalam pekerjaan sehari-hari. Caranya, standar tetap di tempatnya, lalu kamu tentukan “sampai sini saja”.

Kenapa sudah selesai tapi rasanya belum selesai

Makin dekat ke akhir, anehnya cela makin gampang terlihat. Di awal, kamu sibuk menambal lubang besar sampai tidak sempat melihat cela kecil. Baru setelah lubang besar tertutup semua, hal-hal kecil seperti spasi antarbaris atau satu kata mulai tertangkap mata. Dari sinilah muncul ilusi: hasil kerjamu jelas makin bagus, tapi jumlah cela yang terlihat seolah tetap sama.

Lagi pula, kebanyakan pekerjaan tidak punya bel yang berbunyi tanda selesai. Cuci piring selesai begitu bak cuci kosong, tapi proposal atau materi presentasi selalu bisa diperbaiki lagi. Karena tidak ada sinyal dari luar yang menentukan akhirnya, kamu jadi menjadikan momen ketika rasa mengganjal di hati mereda sebagai garis akhir. Padahal rasa mengganjal itu tidak mereda hanya karena hasil kerjanya membaik. Makanya kamu terus kehilangan momen untuk melepaskan.

Coba ingat hal-hal yang kamu perbaiki dalam satu dua jam terakhir. Bagian itu yang paling lama kamu pegang, tapi perubahan yang disadari si penerima justru paling sedikit. Ukuran huruf yang diturunkan satu tingkat atau akhir kalimat yang sedikit diubah hanya terlihat besar di matamu sendiri. Ujung akhir inilah bagian ketika tenaga yang dicurahkan dan perbedaan yang tersisa paling tidak seimbang.

Corak yang paling sulit melepaskan

Corak dengan keteraturan tinggi. Orang yang suka urutan dan rencana baru merasa tenang kalau setiap proses dijalani dengan benar. Kalau semua proses sudah dijalani tapi hasilnya tidak berkilau seperti yang diharapkan, muncul keinginan untuk mengulang satu putaran lagi.

Corak dengan amplitudo emosi yang lebar. Bagi orang yang rasa mengganjal kecil seperti “masih agak kurang nih” pun bergema kuat, mengirim file sambil memeluk perasaan itu terasa sangat tidak nyaman. Revisi di saat seperti ini sering kali bukan demi pekerjaannya, tapi demi mematikan rasa tidak nyaman itu.

Kalau ditambah jarak antara diri luar dan diri dalam, melepaskan jadi jauh lebih sulit. Orang yang sudah lama mendengar “kalau dia yang kerjain, pasti bisa dipercaya” menjadikan reputasi itu sebagai standarnya. Setiap hasil kerja terasa bukan sebagai pekerjaan, tapi sebagai ujian untuk menjaga diri luarnya, jadi menyerahkan hasil yang sudah cukup bagus terlihat seperti mengikis citranya sendiri. Padahal diri dalammu sudah lelah dan ingin istirahat, tapi diri luarmu ikut pulang ke rumah dan membuatmu membuka laptop lagi.

Dalam struktur ini, pujian diterima diri luarmu, sementara harganya dibayar diri dalammu. Waktu malam, jam tidur, dan santai di akhir pekan terkikis sedikit demi sedikit. Jadi latihan melepaskan bukan latihan bekerja asal-asalan, tapi lebih dekat ke latihan mengembalikan waktu malam untuk diri dalammu.

Cek sendiri

Hitung berapa banyak kalimat di bawah ini yang terasa akrab. Makin banyak, makin tiba waktunya membenahi keterampilan menyelesaikan lebih dulu, bukan membenahi standarmu.

  • Jumlah revisinya bertambah, tapi orang lain tidak begitu bisa melihat beda versi pertama dan versi terakhir.
  • Pekerjaan yang sudah selesai jauh sebelum tenggat tetap kamu pegang sampai detik-detik terakhir.
  • Hasil kerja orang lain terlihat baik-baik saja, tapi di hasil kerjamu sendiri yang terlihat hanya celanya.
  • Pengumuman di aplikasi chat kantor dan proposal penting kamu kerjakan dengan tenaga yang kurang lebih sama.
  • Setelah pulang kerja pun, file yang kamu kirim siang tadi terus terbayang.
  • Di hari libur pun kamu sesekali membuka file karena merasa belum rampung.

Lima latihan melepaskan tanpa menurunkan standar

  1. Bagi pekerjaan jadi tiga kelas. Kalau semua pekerjaan dikerjakan dengan tenaga yang sama, tidak ada sisa tenaga untuk pekerjaan yang benar-benar penting. Tulis A, B, C di samping daftar tugasmu. A untuk pekerjaan yang perlu digarap serius, B untuk pekerjaan yang cukup asal baik, C untuk pekerjaan yang penting selesai. Misalnya proposal untuk klien masuk A, notulen rapat tim masuk B, pengumuman di chat kantor masuk C. Perfeksionisme cukup dinyalakan untuk A saja. Di minggu pertama, beri label saja, lalu catat berapa menit sebenarnya yang kamu habiskan untuk pekerjaan kelas C. Mungkin kamu akan melihat bahwa waktu yang bocor di kelas C lebih banyak dari dugaanmu.
  2. Tulis syarat selesai sebelum mulai. Kalau masalahnya ujung yang tidak terlihat, gambar saja ujungnya lebih dulu. Untuk laporan misalnya “cek angka, cek salah ketik, satu kalimat kesimpulan”, untuk materi presentasi “urutan slide, ukuran huruf, ringkasan terakhir”. Tulis tiga syarat saja, dan kalau ketiganya sudah dicentang, pekerjaan itu selesai. Ide revisi yang muncul setelah dicentang pindahkan ke “catatan untuk versi berikutnya”, lalu tutup filenya.
  3. Tunjukkan draf lebih awal. Kalau kamu baru menyerahkannya setelah dipoles sendirian sampai akhir, seluruh waktu itu hilang begitu saja saat arahnya ternyata salah. Kirim drafnya saat sudah sekitar setengah jalan sambil bilang, “Tolong cek arahnya dulu ya.” Dari sisi penerima pun, mengecek arah lebih awal sering kali lebih menyenangkan daripada langsung menerima versi jadi.
  4. Tetapkan jam lepas tangan, terpisah dari jam pengumpulan. Kalau pekerjaannya harus dikumpulkan jam enam sore, tulis jam empat di kalender sebagai jam lepas tangan, lalu dua jam sesudahnya pakai untuk pekerjaan lain. Revisi menjelang tenggat lebih sering dipakai untuk menenangkan rasa mengganjal daripada membuat pekerjaan lebih baik. Kalau setelah pulang kerja terpikir sesuatu untuk diperbaiki, jangan buka filenya, cukup tulis satu baris di catatan ponsel, lalu baca catatan itu besok pagi. Yang masih layak diperbaiki setelah dilihat pagi-pagi ternyata tidak sebanyak yang kamu kira.
  5. Catat apa yang terjadi pada pekerjaan yang sudah kamu lepaskan. Tulis satu baris kelanjutan cerita dari pekerjaan yang kamu kirim di level cukup baik. Misalnya “notulen rapat, tidak ada yang mempermasalahkan format” atau “draf proposal, cuma diminta revisi arah di satu bagian”. Dalam beberapa minggu saja, kamu bisa melihat sendiri betapa jarangnya adegan yang kamu khawatirkan benar-benar terjadi.

Perasaan yang muncul saat pertama kali melepaskan

Saat mulai latihan ini, beberapa kali pertama justru terasa lebih tidak nyaman. Sudah memenuhi semua syarat selesai dan mengirim file, tapi hatimu masih mengambang untuk sementara. Rasa mengganjal ini mudah dibaca sebagai tanda kamu melakukan kesalahan, padahal sebenarnya lebih dekat ke tanda bahwa kamu belum terbiasa.

Jadi jangan menunggu sampai rasa tidak nyaman itu hilang. Bawa saja rasa tidak nyaman itu dan pindah ke pekerjaan berikutnya. Kalau kamu termasuk corak dengan amplitudo emosi yang lebar, setelah mengirim, pindahkan tubuhmu dulu ke tempat lain, misalnya bangkit dari kursi untuk minum segelas air atau berjalan sekitar sepuluh menit. Setelah pengalaman yang sama terulang beberapa kali, waktu mengambang setelah mengirim itu makin lama makin pendek.

Jangan salah tangkap

  • Melepaskan bukan berarti menurunkan standar. Pekerjaan kelas A tetap boleh kamu garap serius seperti sekarang. Yang berubah hanya menarik kembali tenaga yang selama ini kamu habiskan untuk B dan C.
  • Ini juga bukan ajakan untuk hidup asal-asalan. Menentukan garis akhir itu bukan asal-asalan, tapi perancangan.
  • Cemas kalau tidak sempurna bukan berarti kepribadianmu bermasalah. Keinginanmu untuk berhasil memang besar, dan kamu hanya belum menemukan titik untuk menghentikan keinginan itu.
  • Kalau setiap kali mencoba melepaskan kecemasannya begitu besar sampai kehidupan sehari-harimu goyah, bicarakan dulu dengan tenaga profesional sebelum mencoba latihan ini.

Singkatnya

Tetap cemas setelah semuanya selesai sering kali bukan karena standarmu tinggi, tapi karena garis akhirnya belum ditentukan. Coba bagi pekerjaan jadi tiga kelas, tulis syarat selesai lebih dulu, tunjukkan draf lebih awal, tetapkan jam lepas tangan, dan catat hasil setelah kamu melepaskannya. Kalau kamu penasaran dulu apakah ketelitianmu datang dari harapan atau dari kecemasan, baca juga Perfeksionisme, kekuatan atau belenggu. Kalau meletakkan pekerjaan dan beristirahat pun membuat hatimu tidak nyaman, baca juga Merasa bersalah saat istirahat.

Tes kepribadian gratis menampilkan dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah dalam lima ciri kepribadian. Kalau kamu melihat seberapa jauh jarak di antara keduanya, jadi sedikit lebih jelas kenapa kamu membuka file lagi bahkan setelah pulang kerja.

Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, bukan pengganti diagnosis atau terapi psikologis.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar