32personas
Tes kepribadian

Aku yang terus menunda, apa aku malas?

wujud asli kebiasaan menunda

Tahu harus dikerjakan tapi tetap menunda sering kali bukan karena malas, tapi karena kamu sedang menghindari emosi yang menempel pada pekerjaan itu. Tulisan ini merangkum kenapa kerjaan kantor beres tapi urusan pribadimu terus tertunda, dan langkah pertama yang berbeda untuk tiap emosi.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Sudah tiga minggu kamu tahu harus menelepon rumah sakit untuk bikin janji. Kalau ditelepon, urusannya selesai dalam 2 menit, tapi begitu memegang ponsel, anehnya kamu malah membuka aplikasi lain duluan. Setiap kali melihat baris itu di daftar tugas, hatimu terasa sedikit lebih berat. Yang lebih aneh, kerjaan kantor tidak kamu tunda seperti ini. Materi yang ditunggu atasan selalu kamu serahkan sebelum tenggat, tapi urusanmu sendiri tertunda berminggu-minggu.

Makanya kamu jadi menyalahkan diri, “kenapa sih aku malas banget?” Padahal kalau kamu memang pemalas, kerjaan kantor pun pasti ikut kamu tunda. Menunda kebanyakan adalah perilaku menghindari emosi tidak nyaman yang muncul setiap kali memikirkan pekerjaan itu. Tulisan ini merangkum emosi apa yang memanggil kebiasaan menunda, kenapa urusan pribadimu lebih sering tertunda daripada urusan di luar, dan langkah pertama yang berbeda untuk tiap emosi.

Yang kamu tunda bukan pekerjaannya, tapi emosinya

Begitu memikirkan tugas yang harus dikerjakan, muncul rasa tidak nyaman kecil. Bisa berupa beban, rasa takut, atau rasa bosan. Saat itu kalau kamu membuka ponsel atau tiba-tiba mulai membereskan kamar, rasa tidak nyaman itu hilang sebentar. Menunda adalah perilaku membeli rasa lega sesaat itu.

Masalahnya, harganya dibayar belakangan. Pekerjaan yang ditunda tidak hilang, malah kembali dengan tambahan rasa bersalah karena sudah menunda. Lain kali saat memikirkan pekerjaan itu, rasa tidak nyaman yang awal sudah ditambah rasa menyalahkan diri, jadi kamu makin ingin menghindar. Di sinilah alasan kenapa “sadar dong, kerjain aja” jarang mempan. Yang perlu dihadapi bukan tekad, tapi emosi yang menempel pada pekerjaan itu.

Selama ditunda, pekerjaan itu terus membesar di dalam kepala. Telepon ke rumah sakit yang ditunda tiga minggu, begitu benar-benar dilakukan, selesai dalam 2 menit. Tapi selama tiga minggu itu, telepon di dalam kepalamu adalah urusan yang jauh lebih panjang dan rumit. Mau menjelaskan apa ke petugas, bagaimana kalau tanggal yang diinginkan tidak ada, setiap kali terpikir, satu adegan baru ikut menempel. Pekerjaan yang ditunda terasa lebih berat dari kenyataannya bukan karena pekerjaannya berat, tapi karena selama ditunda ia terus ditambah-tambahi oleh bayanganmu sendiri.

Kenapa kerjaan kantor beres tapi urusanmu sendiri tertunda

Perbedaan seperti ini pasti tidak asing. Diri luarmu menepati tenggat, tapi urusan yang diserahkan pada diri dalammu terus tertunda. Janji ke rumah sakit, lapor pajak, dokumen pindahan, proyek pribadi yang sudah lama diniatkan, dan semacamnya.

Urusan di luar punya struktur. Ada orang yang menunggu, ada tenggat yang pasti, dan kalau tidak dikerjakan, seseorang akan bertanya. Struktur ini membantu menekan emosimu. Walau sedang malas, “atasan nungguin nih” lebih dulu menggerakkan badanmu. Sebaliknya, urusan yang harus diurus sendiri tidak punya penonton. Tidak ada yang mendesak, jadi emosi yang menempel pada urusan itu harus kamu tanggung sendirian sepenuhnya.

Jadi bisa mengerjakan kerjaan kantor tapi tidak bisa mengerjakan urusan sendiri bukan berarti tekadmu cuma setengah. Artinya diri luarmu dibantu struktur dari luar, sementara diri dalammu menghadapi emosi dengan tangan kosong. Kalau sudah tahu ini, jalan keluarnya pun terlihat. Pinjamkan saja struktur yang dipakai diri luarmu kepada diri dalammu.

Corak mana yang lebih mudah tersangkut emosi apa

Emosi yang memanggil kebiasaan menunda sedikit berbeda tergantung coraknya.

Corak dengan amplitudo emosi yang lebar. Memikirkan pekerjaan yang sama pun, rasa tidak nyamannya lebih besar. Pekerjaan yang bagi orang lain hanya merepotkan, bagi corak ini bisa bikin dada sesak. Keinginan untuk menghindarinya pun sama kuatnya.

Corak yang kooperatif. Urusan yang melibatkan orang lain paling sering tertunda. Minta refund, menagih uang yang dipinjam, email penolakan, pokoknya urusan yang membuatmu harus membayangkan reaksi orang lain. Urusannya sendiri selesai dalam lima menit, tapi membayangkan raut wajah orang itu bisa makan waktu berhari-hari. Bagi corak ini, menulis dulu kalimat yang akan dikirim jauh lebih ampuh daripada memecah pekerjaan jadi kecil-kecil.

Corak dengan keteraturan rendah. Bagi orang yang tidak terbiasa menyusun rencana dan menata sesuatu, dinding terbesar adalah rasa buntu karena tidak tahu harus mulai dari mana. Makin samar pekerjaannya terlihat, makin enggan tangan bergerak. Ini bukan kemalasan, tapi tanda bahwa kamu butuh alat untuk memotong langkah pertama pekerjaan jadi kecil-kecil.

Cek sendiri: langkah pertama yang berbeda untuk tiap emosi

Ingat satu pekerjaan yang sedang kamu tunda, lalu cari kalimat yang paling pertama muncul di kepalamu saat memikirkannya.

Kalimat yang muncul duluanEmosi yang dihindariContoh langkah pertama
“Terlalu besar, nggak berani mulai”BebanAlih-alih menulis laporan, buat satu file dan tulis judulnya saja
“Toh nanti juga nggak bakal bagus”Takut gagalTulis draf yang tidak akan ditunjukkan ke siapa pun, sepuluh menit saja
“Ngapain sih aku harus ngerjain ini”BosanPutar album favorit dan kerjakan hanya sampai albumnya habis
“Mulai dari mana ya”BuntuTulis gerakan pertama dengan kata kerja, misalnya “buka folder dokumen tahun lalu”
“Kalau aku hubungi, dia bakal nggak suka”Beban hubunganTulis kalimat yang akan dikirim dalam dua baris, lalu kirim sebelum makan siang

Walau sama-sama menunda, kalau emosinya berbeda, cara mengurainya pun berbeda. Untuk beban, memecah pekerjaan paling cocok. Untuk rasa buntu, menentukan gerakan pertama. Untuk beban hubungan, menulis kalimatnya lebih dulu.

Empat hal yang bisa dicoba alih-alih menyalahkan diri

  1. Beri nama emosinya dulu. Di samping tugasmu, tulis satu baris “apa yang bikin aku nggak suka saat memikirkan ini”. Misalnya “telepon rumah sakit, malas menjelaskan gejala dari awal”. Begitu diberi nama, rasa berat yang samar menyusut jadi satu rasa tidak nyaman yang spesifik, dan kamu bisa memilih cara yang pas untuk rasa tidak nyaman itu.
  2. Pinjam struktur dari diri luarmu. Buatkan penonton untuk urusan yang kamu urus sendiri. Misalnya bilang ke teman, “Nanti aku kirim bukti kalau dokumennya udah aku serahkan sebelum Jumat”, atau sisihkan waktu khusus untuk mengerjakan urusan itu saja di tempat yang ada orang lain, seperti kafe. Memasukkan urusan pribadi ke kalender seperti jadwal rapat juga prinsipnya sama. Kalau kamu menulis jam dan durasinya sekaligus, seperti “Sabtu jam sepuluh pagi, lapor pajak tiga puluh menit”, tenaga yang selama ini kamu pakai untuk menyelesaikan kerjaan kantor bisa kamu pakai juga untuk urusanmu sendiri.
  3. Tulis gerakan pertama sekecil mungkin, pakai kata kerja. “Persiapan pindahan” bukan tugas, tapi proyek. Ubah jadi kalimat yang bisa langsung menggerakkan tangan, seperti “telepon pengelola gedung untuk memberi tahu tanggal pindahan”. Kalau kamu mengizinkan diri untuk berhenti setelah satu gerakan itu, ambang untuk memulai langsung turun drastis.
  4. Di hari kamu menunda, tentukan saja jam mulai berikutnya, alih-alih menyalahkan diri. Kalau hari ini pun belum sempat, jangan tulis “kenapa sih aku begini”, tapi cukup tulis “besok jam sepuluh pagi, sampai buka file” lalu tutup. Menyalahkan diri hanya menambah satu lagi emosi yang menempel pada pekerjaan itu. Kalau jam mulai berikutnya sudah ditentukan, pekerjaan itu bukan lagi pekerjaan yang gagal, tapi pekerjaan yang sudah dijadwalkan.

Jangan salah tangkap

  • Menunda bukan berarti kamu orang yang malas. Bisa jadi justru karena kamu peka terhadap emosi, kamu menghindar lebih kuat.
  • Termasuk corak dengan keteraturan rendah juga bukan berarti kamu akan menunda seumur hidup. Yang kamu butuhkan bukan merombak kepribadian, tapi alat untuk memotong langkah pertama.
  • Kalau bukan hanya tugas, tapi hal yang dulu kamu sukai pun tidak ingin kamu sentuh, itu mungkin lebih dekat ke keadaan energi yang sudah habis daripada kebiasaan menunda. Kalau begitu, baca dulu Belakangan semua terasa malas dan lelah.
  • Kalau kebiasaan menunda berlangsung lama sampai mengguncang pekerjaan dan kehidupanmu, lebih baik bicarakan dengan tenaga profesional daripada mencoba menyelesaikannya sendirian.

Singkatnya

Menunda bukan kemalasan, tapi perilaku menghindari emosi yang menempel pada suatu pekerjaan. Kalau kerjaan kantor beres tapi urusanmu sendiri terus tertunda, itu bukan karena tekadmu lemah, tapi karena diri dalammu tidak punya struktur. Beri nama emosinya, pinjam struktur dari diri luarmu, tulis gerakan pertama sekecil mungkin, dan di hari kamu menunda, tentukan saja jam mulai berikutnya. Kalau perasaan “daripada nggak sempurna, mending nggak usah” sedang menghalangimu untuk mulai, baca juga Perfeksionisme, kekuatan atau belenggu.

Tes kepribadian gratis menampilkan dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah dalam lima ciri kepribadian. Kalau kamu melihat di mana posisi amplitudo emosi, sifat kooperatif, dan keteraturanmu di masing-masing situasi, kamu akan tahu di depan emosi apa kamu berhenti, dan langkah pertama seperti apa yang cocok untukmu.

Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, bukan pengganti diagnosis atau terapi psikologis.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar