
Aku terlalu sering memikirkan perasaan orang lain, sebaiknya bagaimana
Hatimu bergejolak cuma karena satu raut wajah orang lain bukan tanda kamu lemah. Kepekaanmu menangkap sinyal itu akurat, yang bikin lelah adalah tafsir ‘ini salahku’ dan tanggapan ‘harus segera dibereskan’ yang otomatis menempel padanya.
“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →
Kamu menyampaikan satu pendapat di rapat, lalu atasanmu bilang “hmm, oke” dan langsung pindah ke agenda berikutnya. Raut wajahnya juga tampak sedikit kaku. Setelah itu, isi rapat tidak begitu masuk ke kepala. ‘Pendapatku jelek ya? Harusnya tadi nggak usah ngomong.’ Kembali ke meja, kamu mengirim pesan “Pendapat saya tadi cuma buat referensi aja ya!”, lalu khawatir lagi jangan-jangan tanda seru itu kelihatan terlalu enteng. Baru di rumah kamu sadar makan siangmu tadi asal lewat, dan bahumu tegang seharian.
Besoknya ternyata atasanmu saat itu sedang sibuk memikirkan urusan lain yang mendesak. Tapi seharian kemarin sudah habis terpakai untuk satu raut wajah itu. Tulisan ini tidak menyamaratakan kebiasaan terlalu memikirkan perasaan orang lain dengan satu kata ‘sensitif’, tapi membaginya jadi tiga tahap. Sampai mana itu kemampuan, dan mulai dari mana ia membuatmu lelah.
Membaca perasaan orang berjalan dalam tiga tahap
Memperhatikan perasaan orang terlihat seperti satu gerakan, padahal sebenarnya tiga tahap yang bersambung dengan sangat cepat.
- Menangkap. Kamu menyadari bahwa raut wajah, nada bicara, atau kecepatan balasan seseorang berbeda dari biasanya.
- Menafsirkan. Kamu memberi alasan pada perubahan itu.
- Menanggapi. Kamu melakukan sesuatu sesuai tafsiran itu. Minta maaf, lebih banyak tersenyum, atau mengurangi bicara.
Orang yang sering memperhatikan perasaan orang lain biasanya akurat di tahap pertama. Perubahan kecil yang tidak terlihat orang lain pun bisa ia tangkap. Ini jelas sebuah kehalusan, dan karena itu kamu sering dibilang enak didekati. Yang bikin lelah bukan menangkapnya, tapi tahap sesudahnya. Tafsirannya hampir selalu ditempeli ‘gara-gara aku’, dan tanggapannya sudah pasti ‘harus dibereskan sekarang juga’. Kalau tiga tahap itu menempel jadi satu gumpalan, satu sinyal langsung berubah jadi satu permintaan maaf.
Tanggapan yang terburu-buru kadang malah menciptakan kecanggungan baru. Orang yang tadinya tidak memikirkan apa-apa, kalau tiba-tiba menerima pesan permintaan maaf, malah jadi mengingat lagi adegan itu sambil berpikir, “Emang aku kelihatan tersinggung ya?” Tanggapan yang dimaksudkan untuk menjaga suasana justru menciptakan sinyal yang tadinya tidak ada.
Kenapa tafsirannya selalu mengarah ke diri sendiri?
Corak yang kooperatif. Orang yang menganggap penting hubungan berjalan mulus merasa bahwa kalau suasana sedikit saja meleset, tanggung jawab membetulkannya ada padanya. Karena merasa dirinyalah yang harus membetulkan, penyebabnya pun dengan sendirinya dicari dalam dirinya.
Corak dengan amplitudo emosi yang lebar. Begitu menerima sinyal, hatinya lebih dulu terguncang hebat. Saat kecemasan sedang naik, tafsiran yang paling buruk terlihat paling masuk akal.
Alasannya juga bisa dicari di antara diri luar dan diri dalam. Orang seperti ini, saat berada di depan orang lain, hampir seluruh perhatiannya mengarah ke luar. Raut wajah lawan bicara terbaca jelas, tapi sinyal rasa lapar, lelah, atau tidak nyaman dalam dirinya sendiri tidak tertangkap. Sinyal-sinyal itu baru tiba sekaligus saat ia sendirian. Kamu tiba-tiba lemas begitu sampai rumah bukan karena staminamu lemah, tapi karena sinyal dari dirimu sendiri yang tertunda datang berbondong-bondong di saat itu. Karena itu, daripada langsung menyambung janji lain setelah jadwal bertemu orang, sisipkan sedikit waktu sendiri, supaya ada tempat untuk menerima sinyal yang datang berbondong-bondong itu.
Adegan yang sama, tafsiran yang berbeda
Tafsiran tidak cuma satu. Kalau di samping tafsiran yang otomatis menempel kamu letakkan kemungkinan lain, akan terlihat betapa selama ini kamu membaca dari satu sisi saja.
| Sinyal yang ditangkap | Tafsiran yang otomatis menempel | Tafsiran lain yang mungkin |
|---|---|---|
| Jawaban singkat dari atasan | Kayaknya pendapatku jelek | Mungkin dia sedang dikejar jadwal berikutnya |
| Balasan teman terlambat setengah hari | Aku bikin dia tersinggung ya | Mungkin harinya memang sedang sibuk |
| Satu orang di tongkrongan diam sekali | Candaanku bikin dia nggak nyaman ya | Mungkin dia sedang capek hari itu |
| Tidak ada yang menanggapi pesanmu di grup chat | Semua orang males sama aku ya | Mungkin semua sedang di jalan pulang kerja dan belum sempat lihat |
Bukan berarti tafsiran otomatis selalu salah. Kadang kamu memang penyebabnya. Hanya saja, titik awalnya adalah menyadari bahwa tafsiran lain sama mungkinnya, tapi selama ini kamu selalu memilih kolom pertama saja.
Di tahap mana kamu paling lelah?
Di tahap mana tenagamu paling banyak bocor, lain orang lain lagi. Pilih yang paling dekat denganmu di bawah ini.
- Lelah di tahap menangkap. Berada di tempat ramai saja sudah capek. Masalahnya sinyal yang masuk terlalu banyak, jadi yang perlu didahulukan adalah mengurangi ukuran acara atau lama kamu berada di sana.
- Lelah di tahap menafsirkan. Obrolannya sudah selesai, tapi di kepala terus berlanjut. Latihan membuat tafsiran lain paling cocok untukmu.
- Lelah di tahap menanggapi. Pesan yang akan dikirim kamu revisi berkali-kali, dan yang keluar duluan selalu permintaan maaf. Latihan menunda atau mengubah tanggapan yang perlu didahulukan.
Pilih dan pakai lebih dulu cara di bawah ini yang cocok dengan tahapmu.
Lima cara tetap menangkap sinyal, tapi memisahkan tafsir dan tanggapan
- Saat sinyal datang, buat dua tafsiran lain. Seperti di tabel tadi, tulis dua alasan yang bukan ‘gara-gara aku’, walau harus dipaksakan. Begitu tafsirannya jadi tiga, kekuatan yang digenggam tafsiran pertama berkurang dengan jelas.
- Kalau tebak-tebakan makin panjang, tanyakan sekali. Alih-alih mengunyahnya berjam-jam, tanyakan ringan satu kali saja, “Omonganku tadi bikin kamu nggak nyaman, ya?” Kalau jawabannya “nggak kok, aku cuma capek”, percayai saja kata-kata itu apa adanya. Tidak mengorek lagi juga bagian dari latihannya. Kalau di kantor, bertanya dengan bahasa kerja seperti “Kalau ada yang perlu dilengkapi dari pendapat saya tadi, kabari saja ya” juga sudah cukup.
- Ganti “maaf” dengan “makasih”. Orang yang sering memperhatikan perasaan orang lain gampang menjadikan permintaan maaf sebagai kebiasaan. Coba ganti “maaf telat” dengan “makasih udah nungguin”, dan “maaf aku ngomongnya panjang” dengan “makasih udah dengerin sampai habis”. Hubungannya tetap hangat, tapi kamu tidak menempatkan diri sebagai orang yang bersalah.
- Sebelum menyesuaikan diri, cek sinyal dirimu sendiri selama 3 detik. Saat memilih menu atau menentukan jadwal, sebelum membaca raut wajah lawan bicara, tanyakan dulu dalam hati, ‘aku lagi lapar? capek? baik-baik aja?’ Kehalusan yang selama ini hanya mengarah ke luar, sebentar kamu pakai juga ke dalam. Di awal, cukup sekali sehari, misalnya hanya saat memilih menu makan siang, dan itu sudah jadi awal yang cukup.
- Pilih tempat untuk memakai kehalusanmu. Kamu tidak perlu mengerahkan seluruh tenaga untuk membaca perasaan orang di setiap tempat. Di tempat yang benar-benar membutuhkan kehalusan, seperti saat teman menceritakan hal yang berat, pakailah sepenuhnya. Sinyal yang bukan urusanmu, seperti wajah datar pegawai minimarket atau helaan napas orang yang tidak kamu kenal, biarkan saja lewat. Kehalusan juga tenaga yang makin terkikis kalau dipakai, jadi sebanyak yang kamu hemat di tempat yang kurang penting, sebanyak itu pula kamu bisa memakainya dengan lebih baik di tempat yang benar-benar penting.
Jangan salah tangkap
Sering memikirkan perasaan orang lain bukan berarti harga dirimu rendah atau ada yang salah denganmu. Kepekaan membaca hati orang adalah kemampuan yang membuat hubungan jadi lebih mulus, bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Tulisan ini bukan ajakan untuk mengurangi kepekaan menangkap sinyal, tapi untuk melepaskan tafsir dan tanggapan yang otomatis menempel padanya. Kepekaan bawaan tiap orang berbeda, jadi menerima lebih banyak sinyal daripada orang lain di tempat yang sama hanyalah perbedaan corak.
Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, bukan pengganti diagnosis psikologis. Kalau bertemu orang itu sendiri terasa menakutkan sampai kamu terus menghindar, atau hari-hari ketika kamu sulit tidur karena reaksi orang lain berlangsung lama, bicara dengan konselor profesional juga bisa jadi salah satu cara.
Arahkan kehalusanmu ke dirimu juga
Kepekaan menangkap perubahan kecil pada orang lain boleh kamu biarkan apa adanya. Yang perlu diubah adalah ‘gara-gara aku’ dan ‘sekarang juga’ yang menempel pada sinyal itu. Kalau ada jeda sebentar di antara menangkap, menafsirkan, dan menanggapi, kehalusan yang sama bisa dipakai untuk merawat dirimu, bukan untuk melelahkanmu. Kalau kamu penasaran tentang kepekaan membaca suasana itu sendiri, baca juga Aku terlalu sering membaca suasana. Kalau karena terus menyesuaikan diri kamu jadi sulit menolak, baca juga Tidak bisa menolak.
“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?
Cek diri publik & diri tersembunyimu gratisGratis · Mulai tanpa daftar
