32personas
Kecocokan

Cara akur dengan orang yang ritme balas chatnya beda

cepat lambatnya balasan bukan ukuran perasaan

Saat orang yang memakai ruang chat sebagai kamar untuk berdiam bertemu orang yang memakainya sebagai kotak surat, yang satu merasa kecewa dan yang lain merasa terbebani. Tulisan ini membaca kenapa ritme chat tiap orang berbeda lewat lima corak, lalu merangkum lima cara menyamakan ritme, baik dengan teman maupun pasangan.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Pesan yang kamu kirim waktu makan siang baru dibalas lewat pukul delapan malam. “Astaga, baru lihat! Hari ini riweh banget.” Kamu tahu itu bukan masalah besar, tapi entah sudah berapa kali kamu membuka ruang chat itu selama menunggu. Ada juga yang pernah berdiri di sisi sebaliknya. Setiap kali notifikasi berbunyi beruntun, rasanya seperti dikejar-kejar untuk cepat membalas, dan kalau telat sedikit saja, “Lagi sibuk?” sudah masuk duluan.

Kalau ritme membalas pesan berbeda, yang satu merasa kecewa dan yang lain merasa terbebani. Padahal dua-duanya bukan orang jahat. Tulisan ini merangkum kenapa ritme membalas pesan berbeda pada tiap orang, bagaimana kebiasaan yang sama dibaca dengan arti yang berbeda oleh masing-masing, dan bagaimana dua orang dengan ritme berbeda bisa akur tanpa terlalu lelah.

Kecepatan membalas bukan ukuran perasaan, tapi soal cara memakai

Aplikasi pesan bukan alat yang sama bagi semua orang. Bagi sebagian orang, ruang chat adalah kamar tempat berdiam. Setiap ada waktu luang, mereka masuk, berbagi soal makanan hari ini atau adegan lucu yang barusan dilihat, dan menjaga rasa sedang bersama. Bagi orang lain, ruang chat lebih mirip kotak surat. Dibuka kalau ada perlu, dicek, lalu ditutup.

Saat orang yang memakainya sebagai kamar bertemu orang yang memakainya sebagai kotak surat, pesan yang sama punya bobot yang berbeda. Bagi yang memakainya sebagai kamar, diam selama beberapa jam terasa seperti kamar yang mendadak kosong. Bagi yang memakainya sebagai kotak surat, itu hanya surat yang belum dibuka. Karena itu, mengukur besar kecilnya perasaan dari ritme membalas pesan sering meleset. Yang sedang kamu ukur bukan perasaan, tapi cara memakai alatnya.

Membaca ritme chat lewat lima corak

Sosialitas. Bagi corak yang terisi ulang lewat mengobrol dengan orang, chat yang sering justru terasa seperti istirahat. Sebaliknya, bagi corak yang terisi saat sendirian, pesan pun termasuk urusan berhadapan dengan orang, jadi di hari ketika ia sudah meladeni orang seharian, ia ingin ponselnya pun ikut diam. Bagi corak ini, pesan “Kok nggak dibalas?” terdengar seperti ketukan di pintu kamar tempatnya sedang beristirahat.

Keteraturan. Corak dengan keteraturan tinggi membalas pesan sekaligus pada jam tertentu, atau langsung menyelesaikannya seperti tugas. Corak dengan keteraturan rendah membalas saat teringat. Kadang setelah membaca ia merasa sudah membalas, lalu baru sadar keesokan harinya bahwa balasannya belum terkirim. Bagi corak dengan keteraturan tinggi, membalas sekaligus bukan tanda cuek, tapi caranya supaya tidak membalas asal-asalan.

Emosionalitas. Bagi corak dengan amplitudo emosi yang lebar, menunggu terdengar begitu keras. Selama beberapa jam tanpa balasan, berbagai kemungkinan alasan berputar di kepala. Bagi corak dengan amplitudo yang sempit, diam ya hanya diam, jadi ia sulit menebak kenapa orang lain merasa kecewa.

Keramahan. Corak dengan keramahan tinggi merasa wajib cepat membalas meski sedang capek. Kalau telat membalas, rasanya seperti sudah membuat orang lain menunggu, dan hatinya jadi tidak tenang. Kalau corak ini bertemu orang yang lambat membalas, ia mudah kecewa karena merasa hanya dirinya yang berusaha. Sebaliknya, corak dengan keramahan rendah merasa wajar membalas saat dirinya sempat, sehingga baru belakangan tahu bahwa orang lain sudah menunggu.

Keingintahuan. Corak dengan keingintahuan tinggi ingin langsung berbagi setiap kali melihat sesuatu yang menarik. Tautan, foto, dan pikiran yang baru muncul terkirim beruntun. Kalau penerimanya corak dengan keingintahuan rendah, tautan-tautan itu menumpuk seperti PR, sampai balasannya malah makin tertunda.

Di atas semua itu, ada lagi perbedaan antara diri publik dan diri tersembunyi. Ada orang yang langsung membalas chat kantor, tapi lambat membalas chat pribadi. Orang lain mungkin kecewa, “Chat kerja aja dibalas cepat,” tapi ini bukan soal prioritas, melainkan soal diri yang mana yang sedang bertugas. Di jam kerja, diri di depan orang sedang menyala, dan meletakkan ponsel sepulang kerja adalah cara diri saat sendirian beristirahat.

Kebiasaan yang sama, tafsiran yang berbeda

Kebiasaan chat seperti iniBagi dirinya sendiriArti yang mudah ditangkap orang lain
Membalas sekaligus beberapa jam kemudianIngin menyelesaikan kerjaan dulu, lalu membalas dengan benarTernyata aku bukan prioritas
Membalas singkat satu barisSemua yang perlu disampaikan sudah tersampaikanKayaknya dia malas ngobrol
Langsung mengirim setiap kali teringatBerbagi rasa sedang bersamaDesakan supaya cepat dibalas
Membaca tapi tidak membalasMenilai pesan itu tidak perlu dibalasAku diabaikan
Jarang melihat ponsel sepulang kerjaWaktu untuk istirahat sendirianKayaknya dia nggak mau kontakan sama aku

Makin jauh jarak antara kolom tengah dan kolom kanan, makin menumpuk rasa kecewa. Di antara teman, jarak ini mudah melebar jadi “apa aku nggak sepenting itu buat dia”, dan dalam pacaran jadi “apa perasaannya sudah mendingin”. Chat terasa sangat berat dalam pacaran karena sering dipakai sebagai bukti rasa sayang.

Chat yang dulu sering di awal pacaran lalu berkurang beberapa bulan kemudian juga sering dibaca dengan cara yang mirip. Padahal sering kali itu bukan karena perasaannya mendingin, melainkan karena ritmenya kembali ke aslinya. Di masa deg-degan sedang besar-besarnya, orang yang biasanya memakai ruang chat sebagai kotak surat pun sementara memakainya sebagai kamar. Daripada melihat apakah jumlah chat berkurang, lebih tepat melihat apakah hangatnya pertemuan dan obrolan tetap terjaga setelah jumlahnya berkurang.

Lima cara agar dua orang dengan ritme berbeda tetap akur

  1. Jelaskan ritmemu sekali dengan kata-kata. “Aku jarang lihat ponsel sepulang kerja. Bukan karena nggak peduli sama kamu, tapi aku perlu istirahat di jam itu supaya kuat menjalani hari berikutnya.” Yang cepat membalas juga sama. “Aku perlu saling kirim pesan sesering mungkin, walau singkat, supaya terasa sedang bersama.” Kalau masing-masing sudah menjelaskan sekali, orang lain tidak perlu menebak sampai puluhan kali, dan yang tadinya terlihat seperti desakan atau ketidakpedulian mulai terlihat sebagai cara masing-masing.
  2. Sepakati sinyal satu baris. Saat tidak sempat membalas panjang, cukup satu baris: “Hari ini lagi riweh, nanti malam aku kabari ya.” Yang menunggu jadi tenang karena tahu alasannya, dan yang lambat membalas terbebas dari beban harus menulis balasan panjang.
  3. Sepakati bahwa urusan mendesak lewat telepon. “Kalau penting, aku telepon. Chat dibaca pelan-pelan aja nggak apa-apa.” Kalau urusan mendesak punya jalurnya sendiri, balasan yang lambat tidak lagi jadi sinyal cemas. Kalau telepon terasa canggung di antara kalian, kalian juga bisa sepakat menaruh satu kata “PENTING” di depan pesan.
  4. Lihat hal lain, bukan waktu balasan. Daripada berapa menit sampai pesan dibalas, apakah ia fokus padamu saat bertemu dan apakah ia menepati janji jauh lebih menunjukkan seperti apa hubungan kalian. Kalau kamu punya kebiasaan mengecek waktu balasan, alih-alih menghitung sudah berapa menit berlalu, coba ingat lagi pertemuan terakhir kalian. Kalau masih penasaran, bertanya langsung lebih cepat. “Cara kita chat belakangan ini, buat kamu oke nggak?”
  5. Pinjam setengah dari cara masing-masing. Yang lambat membalas, coba kirim pesan duluan sekali sehari. Satu foto makan siang sudah cukup. Yang cepat membalas, jangan langsung mengirim apa pun yang terlintas, tapi kumpulkan dulu lalu kirim sekaligus. Berbagi cerita seharian di malam hari juga punya keseruannya sendiri. Kalau dua-duanya bergeser sedikit, kalian akan bertemu di sekitar tengah.

Kalau kamu termasuk yang benar-benar butuh waktu sendiri, perasaan itu dibahas lebih rinci di Aku introvert, tapi bukan berarti benci orang.

Jangan dibaca seperti ini

  • Ini bukan berarti kalian baru cocok kalau ritme chatnya sama. Meski ritmenya beda, asalkan kalian tahu ritme masing-masing, hubungan tetap bisa terasa nyaman.
  • Ini juga bukan berarti yang lambat membalas itu cuek atau yang cepat membalas itu posesif. Begitu label ditempelkan, yang terjadi bukan lagi obrolan, tapi pertengkaran.
  • Hanya saja, bedakan antara perbedaan ritme dan masalah sikap. Kalau kontaknya selalu hilang setiap kali dibutuhkan, atau diam dipakai sebagai hukuman, itu bukan masalah ritme, tapi masalah cara memperlakukan hubungan.
  • Kalau waktu menunggu balasan terasa begitu menyiksa sampai mengguncang keseharianmu, baca juga Begitu pacaran selalu cemas dan posesif, dan kalau kecemasan itu berlangsung lama, cobalah bicara dengan tenaga profesional.

Penutup

Ritme membalas pesan menunjukkan bagaimana seseorang menjalani harinya. Kalau dipakai sebagai penggaris untuk mengukur besar kecilnya perasaan, dua-duanya akan lelah, tapi kalau dibaca sebagai ritme masing-masing, cara untuk saling menyesuaikan akan terlihat. Hari ini cukup satu kalimat: “Aku biasanya chat kayak gini, kalau kamu gimana?”

Tes kepribadian gratis menunjukkan dirimu di depan orang dan dirimu saat sendirian secara terpisah lewat lima ciri kepribadian. Kalau kamu melihat di mana posisi sosialitas dan emosionalitasmu dalam dua situasi itu, kamu akan tahu dari mana ritme chat-mu berasal dan bagaimana sebaiknya menjelaskannya kepada orang lain.

Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, dan tidak menggantikan diagnosis psikologis atau konseling.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar