32personas
Tes kepribadian

Aku selalu membandingkan diri dengan orang lain

cara agar perbandingan tidak menggerus dirimu

Setelah menutup media sosial, anehnya kamu merasa jadi kecil? Perbandingan selalu terasa merugikan karena kamu menaruh tampilan luar orang lain yang sudah rapi dan cerita di balik layarmu sendiri di atas timbangan yang sama.

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu? Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis →

Media sosial yang kamu buka sebentar sebelum tidur. Teman kuliahmu mengunggah kabar pindah kerja, mantan rekan kantormu sedang tinggal sebulan di Jeju, dan temanmu sudah seratus hari berturut-turut posting bukti olahraga. Semuanya kabar baik, tapi saat kamu meletakkan ponsel, anehnya hatimu terasa turun. Hari ini kamu juga menjalani hari yang lumayan, tapi hari itu tiba-tiba terlihat menyedihkan.

Kadang yang bikin lebih tersiksa adalah rasa tidak suka pada dirimu sendiri yang mengecil saat melihat hal yang seharusnya dirayakan. Tapi perbandingan tidak bisa diputus hanya dengan niat. Tulisan ini mengupas kenapa perbandingan selalu berakhir merugikanmu, di corak mana ia lebih sering muncul, dan cara mengubah rasa iri dari pisau yang menggerus dirimu menjadi informasi yang berguna.

Perbandingan bukan untuk dimatikan, tapi untuk dikelola

Manusia terbiasa mengukur posisinya lewat jarak dengan orang lain. Karena itu, perbandingan sulit dimatikan sepenuhnya dengan tekad. Makin keras berusaha mematikannya, makin bertambah satu lagi rasa menyalahkan diri, “tuh kan, ngebandingin lagi”.

Lagi pula, perbandingan tidak selalu merugikan. Kalau melihat seseorang lalu muncul keinginan “aku juga pengin coba kayak gitu”, itu bisa jadi arah langkah berikutnya. Masalahnya bukan perbandingan itu sendiri, tapi timbangan yang kita pakai sudah miring ke satu sisi sejak awal.

Perbandingan ke arah sebaliknya juga sama. Merasa lega, “setidaknya aku masih lebih baik”, saat melihat orang yang tampak lebih susah darimu pada akhirnya juga berdiri di atas timbangan yang sama. Sebentar terasa nyaman, tapi keesokan harinya saat melihat seseorang yang lebih sukses, semuanya langsung terbalik. Jadi mengelola perbandingan bukan soal berdiri di pihak yang menang, tapi lebih dekat ke latihan turun satu langkah dari timbangan itu.

Tampilan luar orang lain dan cerita di balik layarmu di atas timbangan

Coba kita jelaskan dengan istilah diri publik dan diri tersembunyi. Setiap orang punya dirinya di depan orang lain (diri publik) dan dirinya saat sendirian (diri tersembunyi). Padahal yang kita lihat dari orang lain hampir selalu sisi luarnya. Yang dipilih untuk difoto, dirapikan sebelum diunggah, dan dikeluarkan saat ada kabar baik.

Sebaliknya, tentang dirimu sendiri kamu tahu sampai ke sisi dalamnya. Malam ketika kamu berhenti di tengah persiapan pindah kerja, catatan olahraga yang berhenti di hari ketiga, sampai kekhawatiran yang tidak kamu ceritakan ke siapa pun. Jadi perbandingan selalu berarti menaruh tampilan luar orang lain yang paling rapi dan cerita di balik layarmu yang belum rapi di atas timbangan. Di timbangan ini, siapa pun yang ditaruh di seberang, kamu akan terlihat lebih ringan.

Selain itu, ada dua hal lagi yang membuat timbangan miring.

  • Hasil orang lain dan prosesmu. Dari orang lain yang terlihat hanya adegan saat pindah kerjanya sudah selesai, dari dirimu yang terlihat adalah bagian tengah saat kamu masih bersiap. Kalau cerita yang sudah selesai dibandingkan dengan cerita yang masih berjalan, yang masih berjalan selalu tampak kurang.
  • Corak kuat orang lain dan corak lemahmu. Kalau jaringan pertemanan luas milik teman dengan sosialitas tinggi dijajarkan dengan hubunganmu yang sempit tapi dalam, yang terisi saat kamu sendirian, kamu terasa tertinggal. Tapi ini bukan soal di depan atau di belakang, melainkan coraknya yang berbeda. Sama saja dengan menjajarkan rekor dari cabang olahraga yang berbeda dalam satu baris.

Kalau dibalik, jadi lebih jelas. Bisa jadi seseorang juga merasakan hal yang sama saat melihat media sosialmu. Rasa capek dan pertengkaran kecil di balik foto liburan yang kamu unggah pasti tidak terlihat di matanya.

Di corak mana perbandingan lebih sering muncul?

Corak dengan amplitudo emosi yang lebar. Satu unggahan saja bisa membuat hatimu bergejolak hebat. Perbandingan datang lebih dulu sebagai perasaan ketimbang pikiran, jadi suasana hati seharian sudah terlanjur ditentukan sebelum sempat menimbang kenapa perasaanmu begini. Kalau kamu termasuk corak ini, begitu perbandingan muncul, tunda dulu kesimpulannya dan lihat lagi sekitar 10 menit kemudian, itu saja sudah membuat ukuran perasaannya berbeda.

Corak dengan sosialitas tinggi. Sebanyak kamu mendapat energi dari berada di tengah orang, sebanyak itu pula kamu peka terhadap posisimu di antara mereka. Siapa yang lebih sering diundang, di tongkrongan mana kamu tidak diajak, semuanya terlihat jelas, dan itu langsung berlanjut jadi perbandingan.

Corak yang kooperatif. Orang yang pandai membaca perasaan dan harapan orang lain juga gampang meminjam standar orang lain. Kata ‘semua orang’ dalam kalimat “semua orang seumuran ini udah sampai segini” diam-diam jadi standarmu.

Membaca ulang rasa iri sebagai hal yang kamu inginkan

Kalau dilihat sekilas, rasa iri seperti sinyal “aku kurang”, tapi kalau dilihat baik-baik, sebenarnya sinyal “aku menginginkan ini”. Hanya saja, adegan yang bikin iri dan hal yang benar-benar kamu inginkan sering kali sedikit berbeda. Coba urai sekali seperti di bawah, dan perbedaannya akan terlihat.

Adegan yang bikin iriYang sebenarnya kamu inginkanHal kecil yang bisa dicoba minggu ini
Foto teman yang sedang tinggal sebulan di tempat lainRasa lepas sejenak dari rutinitas yang berulangMenghabiskan setengah hari di lingkungan yang belum pernah kamu datangi
Kabar pindah kerja teman seangkatanRasa bahwa kamu sedang bertumbuhMenulis satu hal baru yang kamu pelajari di pekerjaan sekarang
Bukti olahraga kenalanKebiasaan rutin merawat tubuhPeregangan 10 menit sebelum tidur
Teman yang selalu dikelilingi orangRasa aman karena punya orang yang bisa diajak ketemu kapan sajaLebih dulu menyapa orang yang sudah lama ingin kamu hubungi

Kalau dilihat begini, terungkap bahwa wujud rasa iri itu bukan seluruh hidup orang itu, tapi satu potongan di dalamnya. Potongan itu biasanya bisa dimulai kecil-kecilan dari tempatmu sendiri.

Sesekali, seberapa pun diurai, hal yang kamu inginkan tidak juga muncul. Hari ketika bukan rasa iri yang datang, tapi semua kabar baik orang lain terasa berat. Itu sering kali bukan tanda keinginan, tapi tanda bahwa kamu sedang sangat lelah. Di hari seperti itu, yang perlu didahulukan bukan menyusun target, tapi tidur lebih awal dan libur sehari dari media sosial.

Lima cara agar perbandingan tidak menggerus dirimu

  1. Ubah kalimat pertamanya. Kalau muncul “dia udah sampai situ, sedangkan aku”, ubah pertanyaannya jadi “bagian mana dari adegan itu yang bikin aku iri?” Kalau jawabannya muncul, tulis satu baris di catatan ponsel seperti di tabel tadi. Begitu pertanyaannya berubah, rasa menyalahkan diri berubah jadi informasi.
  2. Hindari jam-jam ketika perbandingan makin parah. Scroll sambil berbaring sebelum tidur berarti melihat adegan terbaik orang lain di jam ketika diri dalammu paling lelah. Coba pindahkan waktunya, misalnya taruh ponsel di luar kamar 30 menit sebelum tidur, atau buka media sosial hanya di siang hari.
  3. Sembunyikan akun yang menggerus dirimu. Kalau ada akun yang setiap kali dilihat membuatmu memberi peringkat, dan berhenti mengikuti terasa sungkan, fitur ‘sembunyikan’ saja sudah cukup. Hubungannya tetap, hanya dikeluarkan diam-diam dari layarmu.
  4. Bandingkan dengan dirimu di waktu yang sama tahun lalu. Cari foto sekitar setahun lalu di galeri ponselmu. Kekhawatiran yang waktu itu kamu genggam, dan hal yang waktu itu belum bisa kamu lakukan, akan terlihat. Perbandingan dengan orang lain tidak ada habisnya, tapi perbandingan dengan dirimu sendiri memperlihatkan apa yang sudah berubah.
  5. Ungkapkan rasa irimu dengan kata-kata. Coba tanya teman yang bikin iri, “Itu keren banget sih, kamu mulainya gimana?” Lebih sering dari dugaanmu, ia akan bercerita dengan senang hati. Dari obrolan itu terdengar proses yang tidak ada di foto, dan rasa iri berubah jadi kedekatan. Keluarkan juga sepotong cerita di balik layarmu. Kalau kamu bilang sesuatu seperti “Sebenarnya aku juga lagi cari kerja baru, tapi berhenti di tengah jalan”, obrolannya jadi saling berbagi cerita di balik layar, bukan tampilan luar.

Jangan salah tangkap

Sering membandingkan bukan berarti kamu orang yang gampang iri atau harga dirimu rendah. Semua orang melakukannya, dan sampai batas tertentu, itu juga membantu menemukan arah. Tulisan ini bukan ajakan untuk menghapus perbandingan, tapi untuk menyadari bahwa timbangannya sudah miring.

Hanya saja, kalau rasa tak berdaya yang datang setelah membandingkan berlangsung berminggu-minggu, atau setiap melihat kabar orang lain kamu tersiksa sampai kehidupan sehari-hari ikut goyah, kamu tidak perlu bertahan sendirian. Tulisan ini dibuat untuk membantu memahami diri, bukan pengganti diagnosis psikologis. Saat seperti itu, bicarakan dengan konselor profesional.

Bukan timbangan, tapi peta

Munculnya perbandingan itu sendiri tidak bisa dicegah. Tapi kamu bisa memilih mau memakainya sebagai timbangan atau sebagai peta. Timbangan yang membandingkan tampilan luar orang lain dengan cerita di balik layarmu selalu membuatmu terasa ringan, sedangkan peta dari rasa iri yang sudah diurai memberitahumu ke mana kamu ingin pergi. Kalau kamu ingin tahu lebih jauh apa itu diri luar dan diri dalam, lanjutkan dengan Arti diri publik & diri tersembunyi. Kalau harga dirimu sering goyah setelah membandingkan, lanjutkan dengan Saat harga dirimu terus menurun. Kalau kamu mengecek corakmu dulu lewat tes kepribadian gratis, kebiasaan menjajarkan dirimu dengan corak kuat orang lain dalam satu baris pun akan sedikit mengendur.

Suka cerita ini?

“Kamu” dalam tulisan ini, benar-benar dirimu?

Cek diri publik & diri tersembunyimu gratis

Gratis · Mulai tanpa daftar